Niat Baik Saja Tidak Cukup

- Minggu, 18 Juli 2021 | 12:47 WIB
opini (Redaksi)
opini (Redaksi)

Oleh: Said Shofwan

BAGAIMANA jika anda menolong orang lapar dengan memberinya sepotong roti yang diketahui mengandung racun mematikan?

Siapapun akan mudah memahami bahwa itu adalah perbuatan tercela karena bisa berakibat celaka pada orang lain.

Selama pandemi berlangsung, banyak roti mengandung racun dibagi-bagikan.

Baca Juga: Minggu Besok Puasa Tarwiyah, Ini Keistimewaan dan Lafal Niat Puasanya

Ini hanya sebuah perumpaman.

Racun itu berupa informasi palsu yang mengandung potensi bahaya sampai fatal.

Dengan niat baik!

Roti itu wujudnya tulisan atau narasi berisi informasi seputar wabah Covid-19, mulai dari narasi seputar virus hingga terapi untuk yang terinfeksi.

Baca Juga: Siti Hajar dan Kemandirian Perempuan

Sampai disini terlihat tak ada masalah. Akan jadi masalah ketika konten dan narasumbernya ditelisik.

Banyak sekali yang hoax dan narasumbernya tak jelas bahkan palsu, mengatasnamakan seseorang yang bukan penutur sebenarnya.

Tak berhenti sampai di sini.

Sejak awal pandemi, apalagi saat lonjakan kasus saat ini, dampaknya bisa fatal dan korbannya nyata.

"Kalau sesak napas, jangan buru-buru ke rumah sakit, lakukan hal berikut ini..."

"Obat-obat medis untuk Covid banyak efek samping berbahaya, jadi kalau terasa napas sesak, jangan minum obat medis, coba ramuan ini…."

"Virus itu kan cuma menurut ilmunya manusia, boleh percaya boleh nggak, tidak termasuk rukun iman…"

“Kalau virusnya berbahaya, orang-orang tidak meninggal di rumah sakit, tapi di jalan, di pasar….”

Ini hanya contoh narasi yang banyak kita temukan. Kontennya terkesan punya niat baik untuk menolong, berbagi informasi atau bahkan menghibur dan menenangkan orang lain atau kerabat.

Masalahnya ketika sebagian besar tidak mengetahui bahwa konten yang dibagikan tersebut kesahihan dan akurasi konten informasinya cacat sekaligus mengandung dampak berbahaya.

Disinformasi dalam konteks pandemi berdampak ketidaktaatan pada protokol kesehatan yang sudah disepakati global sehingga berakibat rentan terinfeksi dan meluasnya penyebaran virus, menolak pengobatan medis atau perawatan rumah sakit, terlambat mencari pertolongan medis ketika kondisi sudah kritis dan sulit untuk tertolong jiwanya setelah sebelumnya diterapi sendiri dengan terapi yang tidak tepat.

Kondisi ini harus segera kita sadari kemudian kita sudahi.

Ada kaidah sederhana :
النية الحسنة لا تبرر الحرام
(An niyyah al hasanah laa tubarrirul haram)

"Niat yang baik tidak membuat perbuatan haram jadi kebajikan".

Niat memiliki peranan penting dalam ajaran islam sebagai pondasi sebuah amal, yang menjadi pembeda antara perbuatan bernilai nilai ibadah dengan tidak.

Dalam konteks yang sedang kita bahas ini, niat baik saja tidak cukup.

Niat baik basis perbuatannya harus benar.

Dalam kontek menyebarkan informasi, kontennya harus sahih, narasumbernya kompeten dan terpercaya, dan sasaran penerima informasinya harus tepat.

Niat baik tidak selalu jadi kebajikan, seperti halnya niat baik memberikan sesuatu yang disangka obat ternyata racun tetap saja berujung petaka.

Yang tak benar takkan pernah jadi baik.
Menyebarkan kabar palsu yang berdampak membahayakan itu kejahatan,tak bisa disucikan dengan niat baik.

Dan sama bahayanya ketika memberi kabar yang butuh kecerdasan pada orang yang tidak cerdas.

Untuk menghindari keburukan ini, maka tidak menyebarkan konten yang tidak diketahui pasti kebenarannya itu sikap yang benar sekaligus baik. Inilah kebajikan.

Memproduksi informasi seputar pandemic oleh bukan ahliannya.

Sehingga mengahasilkan konten tidak sahih adalah sikap yang salah sekaligus tidak baik.

Menyerahkan suatu urusan pada ahlinya adalah kebajikan.

Ambil saja jalan kebajikan ini, dengan niat baik, menyelamatkan banyak orang dari disinformasi.

Covid-19 sudah terbukti bisa berakibat fatal, terutama pada pasien-pasien risiko tinggi.

Bahkan dalam gelombang kedua saat ini, yang dideteksi tanpa faktor risikopun banyak yang meninggal dunia.

Pencegahan dari terpapar virus ini adalah upaya terbaik, atau jikapun terpapar, punya imunitas baik alami maupun buatan lewat vaksinasi untuk tidak jatuh pada kondisi sakit.

Potensi fatal infeksi virus ini yang jadi alasan bahwa masyarakat menghadapi pandemi ini harus serius dan dengan pengetahuan yang baik.

Oleh karena itu, disinformasi berpotensi berakibat fatal.

Mengingatkan lagi Fatwa MUI no. 24 tahun 2017.

Tahun 2017, MUI sudah mengeluarkan fatwa bahwa haram bagi setiap muslim dalam proses berhubungan dengan sesama manusia menyebarkan hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan yang baik.

Meskipun konteks saat itu bukan masa pandemi, namun sangat relevan dengan kondisi saat ini.

Ada risiko sampai kehilangan jiwa dalam jumlah besar dan keselamatan bangsa akibat disinformasi berkaitan dengan pandemi sekarang membuat penekanan kembali persoalan ini menjadi sangat penting.

Menyikapi Testimoni

Testimoni tidak memiliki nilai ilmiah dalam sains kedokteran.

Pengalaman kesembuhan dengan terapi tertentu boleh saja dibagikan.

Namun tidak bisa jadi dasar ilmiah untuk diterapkan begitu saja pada orang berbeda.

Sebagai sebuah kasus tunggal dengan variabel yang berbeda antar orang satu dengan lainnya, melakukan generalisasi sangat tidak bisa diterima dalam paradigma sains.

Untuk menganjurkannya begitu saja pada orang lain masih mengandung risiko, tidak hanya risiko tidak sembuh, tapi juga risiko munculnya efek terapi yang tak diinginkan baik berupa efek samping ataupun komplikasi.

Tidak sembuh dalam konteks ini juga bisa berarti kondisinya semakin memburuk sehingga terlambat mencari pertolongan medis yang benar sehingga sulit dipulihkan atau bahkan tak tertolong nyawanya.

Alih-alih jadi solusi, bisa berakhir fatal.

Ranah lanjut dalam dunia medis
Kemunculan Covid-19 (SARS-CoV2) di akhir 2019 di Wuhan, China dianggap sebagai titik awal terjadinya pandemi yang berlangsung hingga saat ini.

Sebagai sebuah virus varian baru, sebagaimana layaknya sebuah penyakit baru, pengungkapan sains terhadap virus ini berikut aspek klinis, epidemiologis, pencegahan maupun terapinya mulai dari tahap awal lagi.

Pada titik ini, secara sederhana bisa dikategorikan bahwa pengetahuan tentang pandemi Covid ini adalah ranah advance dunia medis yang tentunya tak akan mudah dicerna orang yang awam dengan ilmu kedokteran.

Perdebatan seputar covid masih sangat fundamental bahkan metodologis sekali, bagaimana memahami sebuah publikasi ilmiah di jurnal yang butuh pengetahuan tentang critical appraisal, seluk beluk riset dan cara mengaplikasikan hasil riset yang relatif minim tersebut ke dunia praktis.

Makanya tak heran bagi kalangan awam beranggapan persoalan Covid ini penuh pro kontra di kalangan para dokter seolah para dokter dianggap ada yang berpendapat bahwa virus Covid itu tidak ada dan vaksin itu berbahaya.

Padahal yang terjadi tidak demikian. Perdebatan medis bukan pada ada atau tidaknya virus ini.

Ini sudah selesai.

Semua sepakat bahwa Covid itu ada dan berbahaya.

Vaksin adalah solusi untuk mencegah infeksi virus, dan ini ada dalam ilmu dasar kedokteran.

Perdebatan para dokter lebih seputar hal-hal teknis tentang bagaimana cara mengatasi pandemi, terapi mana yang punya evidence based lebih kuat daripada yang lain, perdebatan seputar mana yang terbaik diantara vaksin yang sudah diproduksi dalam konteks Indonesia.

Esensi ini jarang ditangkap kalangan awam ditambah derasnya informasi yang memanfaatkan pro kontra non-esensial tadi untuk membuat persoalan semakin kabur bagi kalangan awam dengan segala motifnya.

Pilih jalan termudah dan teraman mengakses informasi dari pihak yang memiliki otoritas adalah cara teraman dan terbaik saat ini.

Sudah ada lembaga negara baik kementrian maupun selainnya yang bertugas memproduksi informasi untuk tujuan edukasi maupun memberikan panduan resmi mulai dari pencegahan sampai pengobatan.

Teliti dalam menerima informasi dan menyebarkannya adalah sikap bijak. Inilah jalan kebajikan yang sangat mudah untuk diamalkan ketika ingin menolong orang lain.

Jika disinformasi tentang pandemi bisa berakibat secara tidak langsung hilangnya jiwa, maka menahan diri andil dalam memproduksi ataupun menyebarkan hoax tentang pandemi ini dengan niat menjaga keselamatan jiwa orang banyak adalah kebajikan yang sangat besar.

Pilih saja jalan kebajikan ini.


dokter Said Shofwan Sp An FIPP, dokter Spesialis Anestesi; Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung

Halaman:

Editor: Nugroho Wahyu Utomo

Tags

Terkini

Suka Marah-marah? Begini Cara Meredamnya

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:25 WIB

Ini 8 Nama Neraka dan Kriteria Calon Penghuninya

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 17:53 WIB

Mengenal Puasa Daud, Ini Dia Keutamaannya

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 06:29 WIB

Teladan Suci Keluarga Rasullah SAW

Kamis, 21 Oktober 2021 | 23:28 WIB

Mumpung Padang Rembulane, Mumpung Jembar Kalangane

Kamis, 21 Oktober 2021 | 23:22 WIB

Penjalin Rotan Kiai Imam Sarang

Kamis, 21 Oktober 2021 | 23:17 WIB

Transformasi Digital Pesantren

Kamis, 21 Oktober 2021 | 23:10 WIB
X