KHR Abdul Fatah, Ulama Besar di Tanah Jawa

Red
- Kamis, 15 Juli 2021 | 21:56 WIB
Peringatan Harlah NU dan Haul Akbar Ke-108 KH R Abdul Fatah oleh Wakil Presiden Prof Dr KH Ma'ruf Amin, sebelum masa pandemi Covid-19 di alun-alun Wonosobo. suaramerdeka.com/dok
Peringatan Harlah NU dan Haul Akbar Ke-108 KH R Abdul Fatah oleh Wakil Presiden Prof Dr KH Ma'ruf Amin, sebelum masa pandemi Covid-19 di alun-alun Wonosobo. suaramerdeka.com/dok

KH R Abdul Fatah atau KH R Syamsul Ma’arif adalah ulama besar di tanah Jawa. Dilahirkan dari keluarga bangsawan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada tahun 1812 M dari ayah KH R Markhamah bin KH R Asmorosufi atau Kangjeng Ngabehi Sutomarto III.

Dirunut dari silsilah keluarganya KH R Abdul Fatah sebagaimana tercatat dalam Buku Silsilah Keluarga Bani KH R Markhamah dan Kyai R Munadi yang di susun oleh KH Muhammad Syukur dan KH Abu Bakar Mahmud Junus, KH R Abdul Fatah keturunan ke 14 dari Raja Brawijaya V.

Kakek KH R Abdul Fatah adalah KH R Asmorosufi atau Kangjeng Ngabehi Sutomarto III beristrikan R Ajeng Ayu Sri Kuning binti Tumenggung R Ageng Wiroduto Kalilusi, penguasa Wonosobo saat itu, dari pernikahan KH R Asmorosufi dan R Ajeng Ayu Sri Kuning melahirkan KH R Markhamah ayah dari KH R Abdul Fatah.

Semasa kecil, KH R Abdul Fatah dididik dalam lingkungan Keraton, dan dibesarkan oleh ayahnya KH R Markhamah dengan pendidikan agama yang ketat dan dipersiapkan untuk berjuang. Setelah dewasa KH R Abdul Fatah menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu di Makkah al Musyarafah kepada para ulama yang masyhur saat itu.

Perang Jawa

Ketika pecah Perang Jawa (Java Oorlogh) yang dipimpin Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda, keluaraga KH R Asmorosufi memilih keluar dari Keraton Ngayokakarta Hadiningrat bersama Pengeran Diponegoro berperang mengusir Belanda dari bumi pertiwi.

Pangeran Diponegoro adalah putra mahkota dari Sultan Hamengkubuwono III Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan RA Mankorowati. Perang Jawa yang berlangasung selama lima tahun itu sangat merugikan pihak Belanda. KH Asmorosufi, beserta putra dan cucunya KH R Markhamah, KH R Manshur, KH R Abdul Fatah dan Kyai R Muhammad Anshor adalah pejuang dalam Perang Jawa tersebut.

Perang Jawa berlangsung di sebagian Pulau Jawa dengan lokasi Yogyakarta di Pantai Selatan hingga Banyumas dibagian barat serta Wonosobo dan Magelang dibagian tengah.

Pada tahun 1827 Pangeran Diponegoro mulai terjepit karena Belanda menyerang dengan 23.000 pasukan.

Jenderal De Kock berhasil melakukan tipu muslihat dengan Pangeran Diponegoro di Magelang kemudian ditangkap dan diasingkan ke Manado selanjutnya ke Makassar hingga wafatnya pada 8 Januari 1855.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Terkini

Apapun Hajatmu, Bacalah Doa Mustajab Ini

Sabtu, 25 September 2021 | 20:39 WIB

Doa Sebelum dan Sesudah Makan, Begini Lafadz dan Artinya

Sabtu, 25 September 2021 | 08:48 WIB

Kekerasan Terhadap Perempuan

Kamis, 23 September 2021 | 22:40 WIB

KHM Mustajab, Pendiri Pondok Islahut Tholibin

Kamis, 23 September 2021 | 22:25 WIB

Pesantren Agen Perjuangan Kelas

Kamis, 23 September 2021 | 22:15 WIB

Endhas Gundhul Dikepeti

Kamis, 23 September 2021 | 22:01 WIB

Pentingnya Menjaga Shalat Lima Waktu

Senin, 20 September 2021 | 17:13 WIB

Ini Keringanan Shalat bagi Musafir

Senin, 20 September 2021 | 10:17 WIB

Gajah Alingan Suket Teki

Jumat, 17 September 2021 | 07:15 WIB

Perpres Dana Abadi Pesantren

Jumat, 17 September 2021 | 06:30 WIB

KH. Abdullah Sajad, Perintis Dakwah di Semarang Wetan

Jumat, 17 September 2021 | 05:50 WIB

Perempuan dan Literasi Keuangan

Jumat, 17 September 2021 | 05:39 WIB
X