Iduladha 1442 H dan PPKM Darurat

Red
- Kamis, 15 Juli 2021 | 21:49 WIB
Koordinator Wilayah Indonesia Tengah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat Prof Dr KH Ahmad Rofiq MA. SM/Dok
Koordinator Wilayah Indonesia Tengah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat Prof Dr KH Ahmad Rofiq MA. SM/Dok

Oleh Ahmad Rofiq*

IDULADHA atau 10 Dzulhijjah 1442 H Insya Allah akan bertepatan dengan 20 Juli 2021. Di Indonesia sering disebut dengan hari raya kurban, merupakan hari raya terbesar kedua setelah Idul Fitri.

Jika Idul Fitri dirayakan sebagai kesyukuran atas kemenangan kaum Muslim dalam “jihad” memerangi hawa nafsu dengan menjalankan puasa selama satu bulan dan membayar zakat fitrah dan mal, sehingga lengkap ibadah ritual, jasmani-ruhani, dan mal sekaligus, maka Idul Adha, dirayakan dengan mempersembahkan sembelihan hewan kurban, untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkannya, yang dalam situasi normal, berbentuk daging kurban mentah.

Hikmah berkurban adalah mensyukuri karunia dan nikmat dari Allah yang sangat banyak, dan manusia pasti tidak mampu menghitungnya (QS. An-Nahl (16): 18).

Sejak kita berada di kandungan ibu, lahir, tumbuh berkembang hingga dewasa, kita bernafas menghirup oksigen gratis, dan juga berbagai kenikmatan lainnya. Boleh jadi kita baru menyadari, di saat-saat pandemi Covid-19 dan yang terpapar makin banyak. Rumah Sakit kuwalahan, stok oksigen nyaris kehabisan. Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan:

“Sesungguhnya Kami (Allah) telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. AL-Kautsar (108):1-3).

‘Id yang biasa disebut “hari raya” arti leksikalnya adalah “kembali” dan adha artinya menyembelih. Menyembelih hewan, dilakukan sebagai ibadah ritual dan sosial, namun makna filosofisnya adalah “menyembelih sifat bakhil dan kikir” dalam diri manusia, dan daging hewannya dibagikan kepada orang lain. Maka tidak salah, jika didsebut dengan “hari raya kurban”.

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa baginya berkelonggaran (rizqi) dan tidak berkurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami” (Riwayat Ibnu Majah dan Ahmad dari Abu Hurairah).

Para Ulama mengartikan kata “sa’ah” dalam hadits tersebut, sebagai setara dengan nishab atau batas penghasilan minimal satu keluarga.

Nabi saw memberi contoh dengan berkurban dua ekor domba, sebagaimana Riwayat Anas bin Malik: “Nabi saw berkurban dua ekor domba, dan aku juga berkurban dengan dua ekor domba” (Riwayat Al-Bukhari 5127).

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Terkini

Apapun Hajatmu, Bacalah Doa Mustajab Ini

Sabtu, 25 September 2021 | 20:39 WIB

Doa Sebelum dan Sesudah Makan, Begini Lafadz dan Artinya

Sabtu, 25 September 2021 | 08:48 WIB

Kekerasan Terhadap Perempuan

Kamis, 23 September 2021 | 22:40 WIB

KHM Mustajab, Pendiri Pondok Islahut Tholibin

Kamis, 23 September 2021 | 22:25 WIB

Pesantren Agen Perjuangan Kelas

Kamis, 23 September 2021 | 22:15 WIB

Endhas Gundhul Dikepeti

Kamis, 23 September 2021 | 22:01 WIB

Pentingnya Menjaga Shalat Lima Waktu

Senin, 20 September 2021 | 17:13 WIB

Ini Keringanan Shalat bagi Musafir

Senin, 20 September 2021 | 10:17 WIB

Gajah Alingan Suket Teki

Jumat, 17 September 2021 | 07:15 WIB

Perpres Dana Abadi Pesantren

Jumat, 17 September 2021 | 06:30 WIB

KH. Abdullah Sajad, Perintis Dakwah di Semarang Wetan

Jumat, 17 September 2021 | 05:50 WIB

Perempuan dan Literasi Keuangan

Jumat, 17 September 2021 | 05:39 WIB
X