Kutuk Marani Sunduk

- Kamis, 24 Juni 2021 | 21:18 WIB
foto: Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah (sm/dok)
foto: Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah (sm/dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Kutuk adalah salah satu jenis ikan air tawar, yang biasa kita sebut ikan gabus. Sunduk adalah penusuk seperti penusuk sate dengan ukuran lebih besar. Dulu orang-tua kita sering berburu ikan dan mendapatkan ikan antara lain kutuk.

Lantas untuk membawa kutuk itu para penangkap ikan membawanya dengan sunduk atau penusuk itu. Pantas kalau lantas kutuk takut melihat sunduk. Tetapi aneh pitutur ini menyampaikan bahwa ada kejadian di mana justru kutuk itu mendekati sunduk itu, padahal jelas langkahnya itu sangat membahayakannya. Tentu saja sebenarnya kejadian itu tidak pernah terjadi.

Namun hal ini sengaja disampaikan oleh para sepuh sebagai sindiran kepada mereka yang perbuatannya atau ucapannya membahayakan dirinya.

Sisi positifnya adalah bahwa hal itu merupakan warning kepada kita agar berhitung dulu sebelum melakukan perbuatan atau mengucapkan kata-kata, bahkan mengungkapkan perasaan, karena kesalahan bisa berakibat fatal dan mendatangkan bahaya bagi dirinya dan bisa jadi membahayakan orang lain.

Saat tulisan ini diturunkan kita masih berada pada masa berkembangnya Covid-19. Bahkan kini muncul varian baru, yaitu varian delta yang konon berasal dari India dengan kekuatan penularan lebih cepat dan lebih mematikan.

Padahal sebelumnya kita sudah optimis akan segera memasuki masa yang lebih kondusif sehingga anak-anak sekolah sudah akan bisa belajar secara tatap muka. Kaitannya dengan pitutur ini apa ? Ya, bukankah sudah selalu disampaikan agar semua orang mengikuti protokol kesehatan dengan ketat, antara lain menghindari kerumunan, karena kerumunan berpotensi besar terhadap terjadinya penyebaran. Dan betul.

Klaster-klaster baru hampir semuanya terjadi karena kerumunan, selain tidak memakai masker dan protokol kesehatan yang lain. Ada klaster mudik, ada klaster silaturahim lebaran, ada klaster hajatan,ada klaster ziarah dan klaster-klaster yang lain.

Tidak mengikuti protokol kesehatan yang berpotensi bahaya tertular Covid-19 sesudah banyaknya anjuran agar menghindarinya itulah ibaratnya kutuk marani sunduk. Dan itulah umumnya sebab terjadinya penularan yang banyak menelan korban. Sekarang kita sudah mendengar beberapa daerah mulai memperketat pelaksanaan PPKM Mikro atau pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat berskala mikro.

Karena itu mari kita ikut mensukseskan program penghentian penyebaran Covid-19 dengan mengikuti protokol kesehatan dengan baik. Selayaknya kalau kita dan para tokoh, guru dan penceramah berpartisipasi dengan menyisipkan ajakan mematuhi protokol kesehatan dalam setiap kesempatan.

Tentu saja pitutur ini tidak berlaku bagi pasukan yang diperintah oleh komandannya untuk mendatangi daerah musuh untuk menyerang dan mengalahkannya meskipun hal itu juga membahayakannya. Kita baca S.2 Al Baqarah ayat 195 yang artinya : "Dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik".

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Suka Marah-marah? Begini Cara Meredamnya

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 23:25 WIB

Ini 8 Nama Neraka dan Kriteria Calon Penghuninya

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 17:53 WIB

Mengenal Puasa Daud, Ini Dia Keutamaannya

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 06:29 WIB

Teladan Suci Keluarga Rasullah SAW

Kamis, 21 Oktober 2021 | 23:28 WIB

Mumpung Padang Rembulane, Mumpung Jembar Kalangane

Kamis, 21 Oktober 2021 | 23:22 WIB

Penjalin Rotan Kiai Imam Sarang

Kamis, 21 Oktober 2021 | 23:17 WIB

Transformasi Digital Pesantren

Kamis, 21 Oktober 2021 | 23:10 WIB
X