Thenguk-Thenguk Nemu Kethuk

- Jumat, 18 Juni 2021 | 02:29 WIB
foto: Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah (sm/dok)
foto: Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah (sm/dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Thenguk-thenguk artinya duduk santai tanpa melakukan kerja apapun. Nemu artinya memperoleh atau mendapatkan sesuatu tanpa sengaja dan tanpa upaya untuk mendapatkannya.

Kethuk adalah bagian dari seperangkat gamelan yang berbentuk seperti kenong tetapi lebih kecil. Dari makna tersebut pitutur ini biasanya dimaknai sebagai gambaran orang yang sedang bernasib baik, tanpa bekerja keras atau bersusah payah, tahu-tahu mendapatkan surprise atau kejutan berupa rejeki nomplok.

Benarkah ada orang yang mendapatkan kenikmatan demikian ? Para sepuh tentu tidak sependapat kalau rejeki itu tanpa usaha terlebih dahulu. Mereka mengajari kita dengan pitutur yang berbunyi "ngunduh wohing pakarti".

Ada hukum sebab-akibat dari pitutur ngunduh wohing pakarti. Artinya rejeki itu diperoleh orang karena pakartinya, karena kerjanya. Ya taruhlah imbalan jasa atas perilaku sebelumnya, bukan tanpa sebab.

Misalnya saja dia pernah berbuat baik kepada seseorang dan dia sudah lupa atas perbuatannya itu karena memang dia biasa tidak mengingat-ingat perbuatan baik yang pernah dilakukannya. Tetapi Tuhan tidak pernah menghapus perbuatan baiknya itu dari buku catatannya.

Nah, bisa jadi pada saat dia sedang tidak melakukan apa-apa itu orang lain datang untuk menyampaikan terima kasihnya. Dan terima kasih itu diwujudkan sesuatu sehingga nampaknya seperti rejeki nomplok tanpa usaha yang kelihatan di mata orang bahkan dia sendiripun tidak melihatnya demikian.

Bisa juga dulu orang tuanya banyak berbuat baik, dan karena dia berbakti kepada orang tuanya, balasan itu diberikan kepadanya.

Jadi "thenguk-thenguk nemu kethuk" adalah kelanjutan dari "ngunduh wohing pakarti" Artinya woh atau hasil atau balasan itu bisa saja datang ketika seseorang tidak melakukan sesuatu atau sedang thenguk-thenguk.

Pelajaran yang dalam yang dapat kita ambil dari pitutur ini adalah bahwa kita harus yakin bahwa perbuatan kita selalu ada nilainya. Dan balasan itu bisa datang saat kita tidak melakukan apa-apa. Karena itu selalulah berbuat baik. Tak benar kalau kita katakan "nyambut gawe sak kepenake nanging nemu kabegjan" .

Tuhan akan mencatat semua perbuatan dan akan membalasnya. Bisa jadi balasan itu datang sebagai surprise, tanpa kita perhitungkan sebelumnya.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Kiai Abdul Hamid Pasuruan Asal Lasem

Kamis, 22 Juli 2021 | 22:00 WIB

Harapan Milad Ke-46 MUI

Kamis, 22 Juli 2021 | 21:55 WIB

Kesetiakawanan Sosial Pascakurban

Kamis, 22 Juli 2021 | 20:27 WIB

Baladewa Ilang Gapite

Kamis, 22 Juli 2021 | 20:20 WIB

Niat Baik Saja Tidak Cukup

Minggu, 18 Juli 2021 | 12:47 WIB

Siti Hajar dan Kemandirian Perempuan

Kamis, 15 Juli 2021 | 22:28 WIB

Tumbu Oleh Tutup

Kamis, 15 Juli 2021 | 22:06 WIB

KHR Abdul Fatah, Ulama Besar di Tanah Jawa

Kamis, 15 Juli 2021 | 21:56 WIB

Iduladha 1442 H dan PPKM Darurat

Kamis, 15 Juli 2021 | 21:49 WIB

KH Manaf, Ahli Tirakat dari Mertoyudan

Jumat, 9 Juli 2021 | 04:48 WIB

Beras Wutah Arang Bali Marang Takere

Jumat, 9 Juli 2021 | 04:43 WIB

Respon Nabi Terhadap Wabah

Jumat, 9 Juli 2021 | 04:35 WIB

Siapa Imam di Saat Pandemi?

Jumat, 9 Juli 2021 | 04:28 WIB
X