Tugas Pengurus MUI

Red
- Jumat, 18 Juni 2021 | 02:24 WIB
Prof Dr Mudjahirin Thohir
Prof Dr Mudjahirin Thohir

 

SEMARANG, suaramerdeka.com - Belum lama ini, MUI Jawa Tengah menyusun kepengurusan untuk masa 4-5 tahun ke depan. Ada sejumlah nama baru yang direkrut. Yang menarik adalah orang-orang yang dimasukkan ke dalam kepengurusan MUI itu, tidak semuanya berkategori ulama. Setidaknya adalah saya. Bukan ulama bukan pula kyai.

Kalau ada yang bertanya, “kok mau”. Jawaban saya sederhana, yaitu karena saya mau belajar kepada para ulama, bagaimana memahami agama dan mengamalkan pemahaman dalam kehidupan sosialnya.

Apa nggak malu, bukan kyai tetapi menjadi pengurus MUI? Nah ini, pertanyaan yang jujur, karena itu saya juga harus menjawab jujur: malu.

Tetapi kalau saya mau mengabdi, menunggu harus alim dahulu, itu mirip kalau mau bersedekah menunggu kalau sudah kaya dahulu. Akhirnya apa? Tidak pernah bersedekah karena selalu merasa belum kaya.

Lantas apa yang bisa kalian lakukan setelah menjadi pengurus MUI? Pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Tidak seperti cara staf suatu perusahaan atau Lembaga, cukup menjawab: sesuai “sot” (standar operasional tugas)-nya.

DUBES ARAB SAUDI KE MUI: Dalam rangka silaturahmi dan menjelaskan persoalan Haji 2021, Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia Syekh Essam bin Abed Al-Thaqafi bersama rombongan mengunjungi kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat di Jakarta. Syekh Essam diterima Ketua Umum MUI KH Miftachul Akhyar, . Sekjen Amirsyah Tambunan, KH Marsudi Suhud, KH Cholil Nafis, KH Abdullah Jaidi. Prof Dr Sudarnoto dan lain-lain. Duta Besar Syekh Essam foto bersama Ketua Umum MUI KH Miftachul Akhyar dan para pengurus lainnya. (SM/Agus Fathuddin)


Beda Penjahit
Mengapa? Di sinilah bedanya antara tailor (penjahit) dengan desainer. Kalau penjahit akan membuat pakaian persis seperti pola yang sudah baku, tetapi desainer justru mengembangkan pola baku itu ke dalam pola baru yang dianggap cocok dan elegan menurut perancang, pengguna, dan pemirsa berdasar kaidah agama atau budaya.

Kalau orang-orang yang ada di MUI berfikir dan berkreasi sebagaimana desainer, maka keberadaan MUI ini terasa dibutuhkan. Mengapa? Karena segala hajat hidup masyarakat manusia, memerlukan landasan etika keagamaan.

Pada masyarakat majemuk, yakni beragam agama yang dipeluk, mengharapkan MUI berperan menjadi pendorong tumbuhnya fungsi agama sebagai pencerah, bukan pemecah belah. Agama menjadi problem solving berdasar hidup berkeadilan dan berkeadaban.

Ada kasus kecil yang bisa diperankan orang-orang MUI untuk mendesain kehidupan yang berkeadaban. Misalnya, bagaimana mengembangkan “tradisi” para pengurus masjid atau musholla di kota-kota (di mana penduduk sekitar penganut beragam agama) mengajak berembug dengan tokoh-tokoh agama lain.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Kiai Abdul Hamid Pasuruan Asal Lasem

Kamis, 22 Juli 2021 | 22:00 WIB

Harapan Milad Ke-46 MUI

Kamis, 22 Juli 2021 | 21:55 WIB

Kesetiakawanan Sosial Pascakurban

Kamis, 22 Juli 2021 | 20:27 WIB

Baladewa Ilang Gapite

Kamis, 22 Juli 2021 | 20:20 WIB

Niat Baik Saja Tidak Cukup

Minggu, 18 Juli 2021 | 12:47 WIB

Siti Hajar dan Kemandirian Perempuan

Kamis, 15 Juli 2021 | 22:28 WIB

Tumbu Oleh Tutup

Kamis, 15 Juli 2021 | 22:06 WIB

KHR Abdul Fatah, Ulama Besar di Tanah Jawa

Kamis, 15 Juli 2021 | 21:56 WIB

Iduladha 1442 H dan PPKM Darurat

Kamis, 15 Juli 2021 | 21:49 WIB

KH Manaf, Ahli Tirakat dari Mertoyudan

Jumat, 9 Juli 2021 | 04:48 WIB

Beras Wutah Arang Bali Marang Takere

Jumat, 9 Juli 2021 | 04:43 WIB

Respon Nabi Terhadap Wabah

Jumat, 9 Juli 2021 | 04:35 WIB

Siapa Imam di Saat Pandemi?

Jumat, 9 Juli 2021 | 04:28 WIB
X