Perbedaan Sholat Idul Adha Jangan Dimaknai Perpecahan, Muhammadiyah Sabtu, NU Minggu

- Kamis, 7 Juli 2022 | 20:40 WIB
Drs KH Muzammil (Kiri) dan Dr KH Tafsir  (kanan). (suaramerdeka.com/dok)
Drs KH Muzammil (Kiri) dan Dr KH Tafsir (kanan). (suaramerdeka.com/dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk menjaga ukhuwah Islamiyah, persatuan dan kebersamaan.

"Perbedaan sholat Idul Adha 1443H jangan dimaknai perpecahan. Masing-masing mempunyai dasar hukumnya."

"Perbedaan di kalangan umat adalah rahmat," kata Ketua PWNU Jateng Drs KHM Muzammil dan Ketua PWM Jateng Dr KH Tafsir kepada wartawan, Kamis, 7 Juli 2022.

Warga Muhammadiyah akan melaksanakan Shalat Idul Adha Sabtu 9 Juli 2022.

Baca Juga: Mudah, Begini Cara Nonton Siaran TV Digital di Televisi Tabung, Ga Pelu Beli TV Baru

Sedang warga NU dan pemerintah akan beridul Adha pada Minggu 10 Juli 2022.

Muzammil menegaskan, perbedaan pendapat merupakan rahmat.

"Perbedaan itu karena perbedaan sudut pandang mengenai hisab dan rukyatul hilal bil fi'li. Selama ini NU berpegang pada hasil hisab dan rukyah."

"Ada yang berpedoman wujudul hilal, dan ada pula yang berpedoman pada imkanu rukyah. Insya Alloh umat sudah terbiasa dengan perbedaan dan semakin dewasa dalam menyikapinya," katanya.

Dengan prinsip kemasyarakatan yang didasarkan pada prinsip tasamuh, tawazun, tawasuth dan i'tidal, dia merasa yakin warga NU dapat menghormati perbedaan dengan tetap merujuk pada ihbar hasil hisab dan rukyatul hilal bil fi'li yang diselenggarakan PBNU dan Pemerintah.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tugas Istri Bernilai Dunia Akhirat

Jumat, 27 Januari 2023 | 06:35 WIB

Pitutur: Gemi, Mastiti dan Ngati-ati

Jumat, 27 Januari 2023 | 06:11 WIB

KH Agus Salim Pembelajar yang Bersahaja

Jumat, 27 Januari 2023 | 06:04 WIB

Aspal Plastik dan Fungsi Kekhalifahan

Jumat, 27 Januari 2023 | 05:48 WIB
X