Islam Kaffah

- Jumat, 24 Juni 2022 | 09:52 WIB
Dr KH Muhammad Saifuddin MA, Sekretaris MUI Jawa Tengah, Direktur Pondok Pesantren Luhur Wahid Hasyim Semarang. (suaramerdeka.com/dok)
Dr KH Muhammad Saifuddin MA, Sekretaris MUI Jawa Tengah, Direktur Pondok Pesantren Luhur Wahid Hasyim Semarang. (suaramerdeka.com/dok)

TERM ini jamak dimaknai dengan menjalankan Islam secara total. Sebuah simplifikasi dari term muslim kaffah yang merujuk kepada pemeluk agama Islam yang menjalankan agamanya secara total, sempurna.

Ayat 208 surah Al-Baqarah ditengarai sebagai asal muasal dari makna ini.

"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu".

Tidak ada yang salah ketika kata as-silm dimaknai dengan Islam. Karena hampir semua penafsir memberikan penafsiran seperti itu atau paling tidak memberian peluang pemaknaan untuk itu, di samping makna lain yakni perdamaian.

Demikian juga, bukan suatu kesalahan ketika diksi ‘masuk Islam secara keseluruhan’ dimaknai menjalankan ajaran-ajaran Islam dengan utuh.

Seorang ulama’ besar Al-Azhar, Syekh Mutawwali Sya’rawi dalam tafsirnya dalam memaknai ayat ini mengilustrasikan sebuah bangunan yang berdasarkan teori engineering berpilar lima, apakah mungkin bisa berdiri sempurna kalau pilarnya hanya tiga?.

Demikian juga pelaksanaan ajaran agama yang perintahnya misalnya lima kewajiban tapi yang dilaksanakan cuma tiga. Alih-alih bangunan itu berdiri tegak, justru dia akan roboh.

Bahkan secara lebih tegas, Syekh Azhar Al-Imam Muhammad Sayyid Thanthawi dalam tafsirnya Al-Wasith mengatakan bahwa ayat tersebut menyeru orang-orang yang beriman agar konsisten dalam melaksanakan semua ajaran Islam. Tidak melaksanakan sebagian, meninggalkan sebagian ajaran yang lain.

Yang salah adalah ketika ayat tersebut dimaknai sebagai titik pemisah antara Islam dan bukan Islam, sebagai parameter seorang muslim masih bisa dimasukkan dalam barisan Islam atau sudah keluar dari Islam, sebagaimana penafsiran Sayyid Quthub dalam Fi Zhilal Al-Qur’an. Beliau mengatakan:

Ketika Allah menyeru orang-orang beriman agar masuk Islam secara kaffah, Dia mengancam mereka agar jangan mengikuti langkah-langkah setan. Tidak ada pilihan kecuali dua.

Masuk Islam secara kaffah atau mengikuti langkah setan; hidayah atau kesesatan; Islam atau jahiliyah; jalan Allah atau jalan setan.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bacaan Doa Penambah Rezeki dengan Latin dan Artinya

Minggu, 14 Agustus 2022 | 22:14 WIB

Tholabul Ilmi, Pembahasan Tentang Menuntut Ilmu

Jumat, 12 Agustus 2022 | 21:40 WIB

Kita dan Sampah

Jumat, 12 Agustus 2022 | 13:39 WIB

Pitutur: Memayu Hayuning Bawono Ambrasto Dur Angkoro

Jumat, 12 Agustus 2022 | 13:34 WIB

Kiai Syatibi, Ulama Karismatik dari Kebumen

Jumat, 12 Agustus 2022 | 13:29 WIB

Islam Nusantara Perspektif Antropologis

Jumat, 12 Agustus 2022 | 13:18 WIB
X