Beras Wutah Arang Bali Marang Takere

- Jumat, 22 April 2022 | 22:45 WIB
Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah. (foto: dok penulis)
Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah. (foto: dok penulis)

suaramerdeka.com - Beras tumpah, jarang kembali ke takarannya. Atau beras yang sudah tumpah, jarang yang kembali ke takarannya.

Terkadang kita membawa beras atau memindahkannya dari satu tempat ke tempat yang lain. Kita ingin efisiensi waktu maka kita mengisikan beras ke takaran atau ciduk atau gayung terlalu banyak.

Akibatnya ada beras yang tertumpah atau tercecer. Kita ingin mengambilnya dan mengembalikannya ke takaran atau gayung yang kita pakai? Ya itu bukan mustahil.

Baca Juga: Menggapai Lailatul Qadr

Tetapi lihatlah ada beras yang hilang atau patah, atau ada kotoran yang terikut beras itu ke tempat yang kita maksud. Paling tidak tangan kita terkena kotoran di mana beras itu jatuh dan kita mesti mencuci tangan, meskipun kotoran itu tidak selalu nampak.

Nah dengan begitu ada kerugian waktu dan materi. Jadi pitutur ini mengajari kita bahwa sesuatu yang sudah berubah itu sulit untuk dikembalikan seperti sedia kala.

Ambil contoh keseharian kita. Mobil kita rusak cukup parah akibat kecelakaan.

Kita bawa mobil itu ke bengkel dan diperbaiki sehingga nampak bagus bahkan kelihatan lebih bagus daripada sebelum kecelakaan. Tetapi hati kita tidak mau berbohong.

Kita ingat kecelakaan itu sehingga membuat perasaan tidak senyaman sebelumnya.

Maka ada keinginan untuk berganti mobil dengan bertukar-tambah atau menjualnya.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mikul Duwur Mendem Jero

Jumat, 1 Juli 2022 | 19:57 WIB

Amalan Ibadah di Bulan Dzulhijjah

Jumat, 1 Juli 2022 | 16:05 WIB

KH Bakir, Tokoh NU Batang Periode Pertama

Jumat, 1 Juli 2022 | 15:58 WIB

Pengertian dan Sunah Menjawab Azan dan Iqamah

Jumat, 1 Juli 2022 | 13:06 WIB

Ilmu Kosong tapi Berisi

Jumat, 1 Juli 2022 | 09:16 WIB
X