Ruwahan dalam Tradisi Muslim Jawa

- Kamis, 10 Maret 2022 | 21:51 WIB
Prof Dr Mudjahirin Thohir MA, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan MUI Jateng. (Tangkapan layar YouTube)
Prof Dr Mudjahirin Thohir MA, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan MUI Jateng. (Tangkapan layar YouTube)

 

SUARAMERDEKA.COM - Bulan Sakban yang dalam istilah orang Jawa dikenal dengan sebutan bulan Ruwah, merupakan bulan persiapan memasuki bulan puasa Ramadlan.

Kata ruwah itu sendiri adalah bentuk metatesis yakni suatu proses pergantian letak fonem dalam sebuah kata dari  bahasa Arab: arwah (jamak) dan  ruh (bentuk tunggal).

Apa yang kita saksikan dalam bulan Ruwah itu? Banyak migran pulang kampung untuk ziarah leluhur.

Banyak  orang di berbagai daerah pergi ke makam, baik makam keluarga, pepunden desa, sampai kepada rombongan wisata religi ke makam para wali.

Aktivitas seperti itu dikenal dengan banyak istilah. Nyadran atau Ruwahan.

Wujud dari tindakan ruwahan itu sendiri dikenal dengan istilah beragam namun saling bertautan: bebesik, nyekar, punggahan, sampai tahlilan dalam satu kesatuan tindakan. Mengapa?

Bebesik berwujud tindakan membersihkan rumput ilalang di seputar makam (Jawa: sinonim dengan reresik; resik-resik) merupakan tindakan awal.

Setelah lingkungan makam bersih dari segala rerumputan dan ilalang, dilanjutkan dengan menaburkan bunga yang mereka beli di pasar atau di pinggir jalan.

Menabur bunga di atas makam disebut nyekar. Istilah nyekar itu sendiri berasal dari kata dasar: sekar artinya bunga.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pitutur: Gusti Mboten Sare

Jumat, 3 Februari 2023 | 08:22 WIB

KH Mustahal, Sosok Ulama Istiqomah

Jumat, 3 Februari 2023 | 08:16 WIB

Tugas Istri Bernilai Dunia Akhirat

Jumat, 27 Januari 2023 | 06:35 WIB
X