Momen Isra dan Miraj Berkaitan Erat dengan Masjid Serta Sholat

- Kamis, 17 Februari 2022 | 08:24 WIB
Dai kondang Semarang yang juga pendiri majelis Taklim Bening Hati KH Duri Ashari menyampaikan tausiyah diperingatan Isra Miraj di Masjid Al Hidayah. (suaramerdeka.com / Siswo Ariwibowo)
Dai kondang Semarang yang juga pendiri majelis Taklim Bening Hati KH Duri Ashari menyampaikan tausiyah diperingatan Isra Miraj di Masjid Al Hidayah. (suaramerdeka.com / Siswo Ariwibowo)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Isra dan Miraj merupakan salah satu kejadian luar biasa yang dialami Nabi Muhammad SAW dan menjadi peristiwa penting bagi umat Islam.

Dalam banyak literatur, Isra diartikan diperjalankannya Nabi Muhammad SAW oleh Allah dari Masjidilharam, Makkah menuju Masjidilaqsa Palestina.

Sementara Miraj ialah dinaikkannya Nabi Muhammad oleh Allah ke langit sampai ke Sidratulmuntaha sehingga Isra dan Miraj tidak bisa dilepaskan dari masjid dan Sholat.

Hal itu disampaikan Da'i kondang Semarang yang juga pendiri majelis Taklim Bening Hati KH Duri Ashari.

Baca Juga: Ramalan Zodiak 17 Februari 2022: Karir Gemini Matang, Banyak Cinta Datang untuk Taurus

"Jadi kalau berbicara Isra - Mikraj itu harus berbicara soal masjid dan Sholat. Jadi jangan bicara wadah kalau tidak bicara isi. Ibaratnya jejere ora podo karo ceritane," kata Kiai Duri Ashari saat menyampaikan tausiyah peringatan Isra Mi'raj Masjid Al Hidayah, RT 02 RW 02 Kelurahan Karangrejo, Gajahmungkur, Semarang.

Sejurus kemudian, Kiai Duri Ashari mengatakan bahwa peristiwa Isra Miraj itu harus mengenali empat hal.

Pertama, mengenal yang menjalankan yang dicontohkan kalau seseorang akan piknik, maka harus mengetahui sopirnya yang mana, memiliki SIM apa tidak.

Baca Juga: Jatuh pada 17 Februari 2022, Ini Penjabaran Rahasia Weton Kamis Wage dari Primbon Jawa

"Kedua, mengenal yang dijalankan. Jadi sopir harus kenal kendaraannya. Ketiga, awal tempat perjalanan dan keempat hasil atau manfaat dari perjalanan itu apa," terangnya.

Kiai Duri menyebut tepat tidaknya empat hal tersebut tergantung dari kepandaian orang yang menyampaikannya, baik kepandaian dalam menghadapi masyarakat maupun kepandaian mengolah syariat.

Menurut Kiai Duri, hidup tanpa Sholat akan berakhir dengan laknat, sebaliknya hidup dengan Sholat akan berakhir dengan nikmat.

"Neraka kan laknat, tapi hidup dengan Sholat akhirnya nikmat, walaupun di dunianya miskin. Sepanjang-panjangnya hidup di dunia lebih panjang hidup di akhirat," ujarnya.

Baca Juga: Ramalan Zodiak 17 Februari 2022: Pisces Sesuaikan Pekerjaan, Capricorn Waktunya Mengerti Pasangan

Selanjutnya, ketika berbicara soal Sholat pasti akan berbicara tentang sholawat.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kilau Kalam: Istiqomah di Tengah Hedonisme

Sabtu, 1 April 2023 | 04:50 WIB

Kilau Kalam: Mendulang Keberkahan Rizki

Jumat, 31 Maret 2023 | 05:25 WIB

Kilau Kalam: Mewaspadai Candu Duniawi

Kamis, 30 Maret 2023 | 08:10 WIB
X