KH Imam Ghozali, Perintis Perguruan Al-Islam

- Jumat, 14 Januari 2022 | 04:01 WIB
Suasana sekolah dan kompleks pondok pesantren Al-Islam Solo yang dirintis KH Imam Ghozali. (SM/dok)
Suasana sekolah dan kompleks pondok pesantren Al-Islam Solo yang dirintis KH Imam Ghozali. (SM/dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Yayasan Perguruan Al-Islam Surakarta (Solo), yang kini mengelola puluhan lembaga pendidikan, tidak dapat dilepaskan dari sosok KH Imam Ghozali (1887-1969).

Semasa hidupnya beliau aktif dalam kegiatan dakwah –baik dakwah bil-lisan (ceramah) maupun dakwah bil-hal (karya nyata). Di samping mengisi pengajian di berbagai majlis taklim, beliau menulis sedikitnya 23 buah buku.
 
Nama asli sosok yang dikenal sebagai salah satu tokoh pembaruan Islam abad ke-20 ini adalah Damanhuri.

Almarhum lahir di Desa Turen (Sukoharjo) pada tahun 1887. Semasa kanak-kanak, Damanhuri kecil mengaji kepada sang ayah H Hasan Ustadz. Selain itu, ia juga mendalami kitab kuning, seperti Safinah dan Majmu’.

Baca Juga: link live streaming Liverpool vs Arsenal, Pertandingan Giganpressing Vs Tiki Taka
 
Sewaktu menginjak usia 12 tahun, Damanhuri kecil dikirim ke Pondok Kepatihan Surakarta. Di sana ia belajar selama satu tahun, kemudian melanjutkan studinya ke Madrasah Mamba’ul Ulum.
 
Saat berusia 15 tahun, ia bersama ayah dan saudara-saudaranya yang lain pergi melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci.

Usai menunaikan ibadah haji, ia tidak ikut pulang ke Tanah Air melainkan memilih tinggal di Mekkah untuk memperdalam ilmu hadits. Maka, tidak mengherankan jika di kemudian hari Damanhuri alias Imam Ghozali dikenal sebagai ulama ahli hadits.
 
Setelah lama mukim di Mekkah, beliau kembali ke Surakarta (Solo) dan kemudian tinggal di Pesantren Jamsaren. Di samping itu, beliau mengajar di Madrasah Mamba’ul Ulum yang terletak di kompleks Masjid Agung Surakarta.

Baca Juga: BSI-DMI Siapkan Entrepreneur Berbasis Masjid
 
Ketika usianya genap 20 tahun, beliau menikahi Umi Hana, salah seorang cucu pendiri Pesantren Jamsaren.
 
Setahun setelah menikah, pasangan pengantin baru itu pindah ke daerah Sorosejan (Begalon) untuk mengembangkan syiar Islam. Di daerah ini beliau membuka majlis taklim, yang selanjutnya berkembang menjadi madrasah lantaran membludaknya jumlah santri yang mengaji.
 
Madrasah yang baru dibukanya itu diberi nama Madrasah Dienil Islam yang terbagi dalam dua tingkatan, yakni Ibtidaiyah (5 tahun) dan Tsanawiyah (4 tahun).

Kegiatan belajar tingkat Ibtidaiyah pada sore hari, sedangkan Tsanawiyah pagi hari. Hal tersebut dikarenakan terbatasnya prasarana (lokal) untuk kegiatan belajar mengajar.
 
Madrasah Dienil Ilsam inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya sekolah-sekolah di bawah Yayasan Perguruan Al-Islam Surakarta.

Baca Juga: Tasyakuran HUT Ke-28 YPI Nasima, Sekolah Nasima Merintis Boarding School
 
Kiprah Almarhum KH Imam Ghozali tak sebatas dalam lingkup Perguruan Al-Islam saja. Jabatan yang pernah disandang beliau antara lain Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP; 1946-1950) dan Penasihat PP Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Partai Masyumi; 1953).
 
Meskipun Almaghfurlah KH Imam Ghozali telah meninggal dunia pada 19 Juli 1969, namun syiar Islam yang dirintisnya terus berkibar hingga kini. Masjid At-Taqwa, yang terletak di kompleks SMA Al-Islam Surakarta, adalah salah satu saksi dakwah almarhum.

(Akhmad Saefudin SS ME, Penulis Buku 17 Ulama Banyumas)

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Umrah Pascapandemi Covid-19

Jumat, 20 Mei 2022 | 11:05 WIB
X