Mereduksi Intoleransi, Merangkul Perbedaan

- Jumat, 7 Januari 2022 | 04:53 WIB
Syamsul Ma’Arif (suaramerdeka.com / dok pribadi)
Syamsul Ma’Arif (suaramerdeka.com / dok pribadi)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Komunikasi sesama anak bangsa, belakangan ini, mengalami sejumlah ketegangan dan hambatan.

Sebagian elit politik, agamawan, dan bahkan akademisi, sering menunjukkan interelasi kurang harmonis.

Baik pada acara formal atau tidak, apalagi melalui medsos—satu sama lain sering mengedepankan sikap fanatik, tidak saling menghormati dan saling menghina. Mendiskreditkan satu sama lain.

Akibatnya, sering memunculkan fenomena ekstremisme dan kekerasan seperti pembakaran pada pesantren As-Sunnah di Lombok, baru-baru ini.

Jika tidak segera dihentikan, bisa memudarkan ikatan solidaritas sosial (social ligature) dan bisa menuju titik kritis prasyarat hubungan masyarakat plural.

Keengganan menggeser cara pandang eksklusif, egoisme intelektual, perasaan ingin menghegemoni, dan ketidakdewasaan dalam bersikap atau menerima perbedaan.

Cepat atau lambat akan berdampak serius, bukan sekedar menjadi batu sandungan dalam percepatan pembangunan nasional dan mewujudkan keinginan bersama.

Namun, akan menjadi bom waktu yang siap meledak dan merobek-robek keutuhan dalam berbangsa dan bernegara.

Jalan ke luar yang harus segera dilakukan bersama adalah; semua pihak harus segera menahan diri agar jangan sampai mengawali dan memercikkan api konflik sesama anak bangsa.

Semua pihak, sebaiknya segera kembali pada prinsip dasar teologis, sosiologis, dan kultural Indonesia yang selalu mengajarkan sikap saling menyayangi, berdialog, menemukan titik temu, menghindari persoalan khilafiyyah, dan persoalan-persoalan tidak substansial serta meningkatkan pemahaman yang bersifat lebih prinsipil dan idiologis.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Umrah Pascapandemi Covid-19

Jumat, 20 Mei 2022 | 11:05 WIB
X