Mahram pada Perjalanan Perempuan

- Jumat, 7 Januari 2022 | 04:36 WIB
Dr Hj Arikhah, Pengurus MUI Provinsi Jateng. (suaramerdeka.com/dok)
Dr Hj Arikhah, Pengurus MUI Provinsi Jateng. (suaramerdeka.com/dok)

suaramerdeka.com - Perjalanan Perempuan dikenal sebagai safar, meski kata safar tidak membedakan antara perempuan dan laki-laki, namun dalam konteks fiqh di perlakukan beda antara perjalanan laki-laki dan perempuan.

Kata safar mempunyai arti perjalanan yang lingkupnya lebih luas, dalam penggunaannya sering dipersamakan dengan kata rihlah. Kata rihlah juga berasal dari bahasa Arab artinya perjalanan.

Secara umum perbuatan menempuh perjalanan panjang bahkan hingga ke luar negeri, Adapun makna khususnya adalah sebuah petualangan untuk mencari dan mengumpulkan hadis atau menuntut ilmu agama, sementara makna umumnya adalah perjalanan dalam rangka penelitian.

Baca Juga: Ini 5 Ucapan Kasih Sayang Hari Valentine Berbahasa Inggris dan Artinya, Cocok untuk Pasangan Mabuk Cinta

Sedangkan menurut Kamus besar bahasa Indonesia rihlah diartikan lebih luas lagi yaitu sebagai  perlawatan, perjalanan, pelancongan.

Diskursus tentang perjalanan yang dilakukan oleh perempuan lekat dengan keberadaan mahram yang menyertainya. Mahram bagi perempuan yang sedang menempuh perjalanan dalam fiqh selama ini seringkali dimengerti sebagai "mengaman"kan perempuan yang kemudian berujung pada pencegahan perjalanan kepada perempuan yang tidak disertai mahram, apapun tujuan perjalannya. Hal ini sering didasarkan pada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar ra.

Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Perempuan tidak boleh bepergian selama tiga hari kecuali ditemani mahram-nya.” (HR. Bukhâri, Shahîh Bukhâri, Kitâb: al-Jum’ah, Bâb: Fiy Kam Yaqshuru ash-Shalâh, Nomor  Hadîts: 1024).

Baca Juga: PSIS Semarang Takluk dari Persija 1-2, Lanjutan Liga 1 di Bali

Meskipun persoalan perjalanan ini adalah sesuatu yang sangat lumrah, masih banyak para ulama berbeda pendapat. Ada yang melarang, ada juga yang membolehkan perjalanan perempuan tetapi tentu dengan syarat-syarat yang super ketat, misalnya hanya diperbolehkan untuk keperluan yang wajib saja, seperti berhaji dan umrah.

Bagaimana untuk kepentingan thalabul ilmi dan kerja? mengingat banyak muslimah mahasiswi yang menempuh perjalanan keluar kota bahkan keluar negeri untuk thalabu al-ilmy juga bekerja (pekerja migran) tanpa disertai mahram pendamping??

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Umrah Pascapandemi Covid-19

Jumat, 20 Mei 2022 | 11:05 WIB
X