Abot Telak Karo Anak

- Jumat, 11 Juni 2021 | 01:29 WIB
foto: Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah (sm/dok)
foto: Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah (sm/dok)

 

suaramerdeka.com - Lebih berat langit-langit mulut dari pada anak. Atau lebih jelas diartikan sebagai seseorang yang hanya memikirkan kebutuhannya sendiri dan melupakan kebutuhan anaknya. Apa ada ? Berbagai fenomena yang kini kita hadapi dan prediksi masa depan yang bakal terjadi mungkin akan membantu menjawab pertanyaan itu.

Sebenarnya kata prediksi tidaklah tepat karena tanda-tanda masa depan itu sudah terlihat bahkan sudah mulai nampak terjadi di depan kita.

Sering kita mendengar ada orang mengeksploitasi sumber daya alam sampai habis. Hutan-hutan dibabat sampai tak bersisa. Isi laut dia kuras, bahkan dia ingin kekayaan udara dihabisi juga. Mereka lupa bahwa kita perlu meninggalkan generasi penerus yang kuat. Ada yang berkilah bahwa eksploitasi yang dilakukan itu adalah justru untuk anak cucu. Dia ingin mewariskan kekayaan sampai tujuh turunan. Orang yang memiliki pikiran begini pasti lupa bahwa kebutuhan anak cucu kita akan jauh berbeda dengan kebutuhan kita saat ini.

Ambil contoh kebutuhan rumah untuk tempat tinggal. Luas tanah dan desain rumah idaman kita bukan lagi desain idaman masa depan. Kita membangun rumah besar dengan sekian kamar sehingga kalau ada pertemuan atau hajatan cukup mempergunakan ruang pertemuan di rumah kita. Dan kalau anak-anak mudik misalnya,jumlah kamar mencukupi kebutuhan tidur mereka. Itu yang ada di fikiran kita.

Padahal bukankah hotel dan ruang-ruang pertemuan umum menjadi lebih efektif dan efisien. Makanan yang hari-hari ini kita makan sudah bukan makanan kita lima atau sepuluh tahun yang lalu bahkan nama menu yang sama sudah dimodifikasi dengan selera lidah masa kini.

Kendaraan kita, dulu berbahan bakar bensin kemudian berganti menjadi premium. Premium kemudian tak ada lagi berganti bahan bakar solar, pertamax dan seterusnya. Bahkan konon nanti bakal ada mobil tanpa sopir. Mode pakaian kini sudah jauh meninggalkan mode yang kita pakai kemarin, apalagi mode yang dipakai oleh orang tua kita atau nenek-kakek kita.

Alat transportasi cikar atau andong, bemo, bajaj bahkan becak sekarang sudah menjadi pajangan dan sesekali untuk berfoto atau berselfi. Bahkan konon nanti bakal lahir mobil tanpa sopir. Begitu pula alat potret kita yang dulu memakai alat pemotret kotak yang biasa disebut kodak tak pernah terdengar lagi apalagi filmnya. Alat telepon yang dulu kita putar setiap nomornya kini tak ada lagi.

Semua sudah menjadi satu. Ya untuk menelepon, untuk mengirim pesan tertulis maupun untuk berfoto, bahkan berbagai fitur tersimpan dalam satu alat yang bernama handphone yang tipis dan ringan. Anak-cucu kita akan berada di era digital yang kini mulai dirintis. Masih banyak lagi contoh yang bisa disampaikan.

Dan kalau semua itu dikemukakan adalah dimaksudkan untuk mengingatkan kita bahwa dunia ini berobah. Dan kita akan meninggalkan anak cucu yang akan meneruskan kehidupan di dunia ini yang berputar dengan perobahannya itu. Mereka adalah generasi yang berkualitas yang akan mampu mencukupi kebutuhannya berbekal warisan yang kita tinggalkan.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Amalkan Shalawat Ini, Dapatkan Syafaat di Hari Kiamat

Selasa, 19 Oktober 2021 | 07:12 WIB

Bau Badan dan Mulut? Ini Doanya

Senin, 18 Oktober 2021 | 09:06 WIB

Dom Sumurup Ing Banyu

Jumat, 15 Oktober 2021 | 05:39 WIB

Penjalin Rotan Kiai Imam Sarang

Jumat, 15 Oktober 2021 | 05:08 WIB

Wasiat Rasulullah dan Perlindungan Sosial

Jumat, 15 Oktober 2021 | 04:45 WIB

Keharusan Moderasi Beragama

Jumat, 15 Oktober 2021 | 04:10 WIB
X