Menutup Aurat bagi Muslimah

- Kamis, 25 November 2021 | 23:21 WIB
Dr. Hj. Umul Baroroh, M.Ag., Sekretaris MUI Jawa Tengah. (suaramerdeka.com / dok)
Dr. Hj. Umul Baroroh, M.Ag., Sekretaris MUI Jawa Tengah. (suaramerdeka.com / dok)

Perintah ini dioperasionalkan oleh Nabi dengan memberitahu Asma’ untuk menutup seluruh tubuhnya kecuali muka dan kedua tanggannya, khususnya bagi perempuan yang telah mencapai umur baligh atau dewasa (HR Abu Dawud, dari Aisyah RA).

Bagaimana dengan cadar atau burqa yang dipakai oleh sebagian kelompok perempuan ketika mereka berada di area publik? Mereka menutup seluruh tubuhnya, kecuali matanya saja. Bahkan banyak di antaranya memakai pakaian yang seluruhnya berwarna hitam.

Baca Juga: Aja Lali Karo Asale

Pemakaian cadar oleh perempuan di tempat umum ini telah menimbulkan kontraversi di dalam masyatrakat Muslim di Indonesia.

Mengapa? Pertama, pemakaian cadar tersebut merupakan tradisi baru di masyarakat Indonesia karena tidak dijumpai dalam tradisi yang selama ini telah mengakar dan dipakai oleh perempuan Muslimah di Indonesia. Kedua, pemakaian cadar tidak dijumpai dasar yang kuat dalam al-Qur’an maupun hadits.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, prinsip dasar aurat perempuan yang harus ditutup adalah seluruh badan, kecuali muka dan tangan.

Baca Juga: Komentar Soal Pernikahan, Park Shin Hye: Aku Ingin Menemukan Pria Seperti Ayahku

Bahkan saat melakukan sholat dan haji (pakaian ihrom), perempuan diharamkan menutup mukanya. Pada hal saat ihrom tidak ada pemisahan tempat antara laki-laki dan perempuan, mereka bercampur di satu tempat. Dengan demikian, menutup muka dengan cadar ketika di area publik bukanlah suatu tuntutan agama.

Sebenarnya, pemakaian cadar merupakan tradisi berpakaian di sebagian masyarakat Muslim di beberapa negara lain, yang memiliki kondisi dan tradisi relasi gender yang sangat berbeda dengan Indonesia. Di Arab Saudi, misalnya, relasi gender sangat terbatas, di mana perempuan dan laki-laki dipisahkan secara ketat.

Perempuan hanya boleh keluar rumah kalau ditemani oleh muhrimnya, laki-laki dewasa yang masih ada hubungan keluarga dekat, seperti suami, ayah, anak dan sebagainya, yang diharamkan untuk menikahinya. Hal ini tidak terlepas dari kondisi sosial budaya yang berkembang di sana.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Kekudhung Walulang Macan

Jumat, 21 Januari 2022 | 03:17 WIB

Penyakit Umat Beragama

Jumat, 21 Januari 2022 | 03:13 WIB

Pendidikan Reproduksi Sehat Terpadu

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:21 WIB

Cincing-Cincing Meksa Klebus

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:15 WIB

Hubbul Wathon Minal Iman

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:10 WIB

KH Imam Ghozali, Perintis Perguruan Al-Islam

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:01 WIB

Mereduksi Intoleransi, Merangkul Perbedaan

Jumat, 7 Januari 2022 | 04:53 WIB
X