Aja Lali Karo Asale

- Kamis, 25 November 2021 | 23:12 WIB
Ketua MUI Jawa Tengah KH Ahmad Darodji./suaramerdeka.com/dok
Ketua MUI Jawa Tengah KH Ahmad Darodji./suaramerdeka.com/dok

SEMARANG, suaramerdeka.com - Jangan lupa dengan asalnya. Jangan melupakan asal-usulnya. Jangan lupa kondisi sebelumnya.

Pitutur kali ini adalah potongan terakhir dari pitutur yang lengkapnya berbunyi "Aja leren lamun durung sayah. Aja mangan lamun durung luwe. Aja lali karo asale".

Dengan "aja lali karo asale" ini kita dipesan oleh para sepuh yang bijak itu agar tidak melupakan asal-usul kita. Jangan melupakan masa lalu kita. Jangan melupakan siapa yang melahirkan kita. Jangan melupakan siapa yang telah membantu kita sehingga kita menjadi seperti sekarang.

Baca Juga: Ujian untuk MUI

Dengan mengingat masa lalu, kita akan mengingat kebaikan orang kepada kita yang telah mendidik kita membimbing kita. Bisa jadi dia saudara kita, guru kita, teman kita, pimpinan kita dan mereka yang pernah berjasa kepada kita seberapapun besar jasa itu. Masa lalu itu termasuk orang tua kita.

Bahkan kita bisa mengatakan pemegang peran utama yang menjadikan kita menjadi seperti ini adalah orang tua kita? Ingin tahu berapa besar jasa dan pengorbanan orang tua kepada kita ? Lihatlah apa yang dilakukan orang tua kepada anaknya.

Lebih tepat lagi, apa yang kita lakukan untuk anak-anak kita, sejak ibu mengandung sampai melahirkan dan menyusuinya. Ibu bersama bapak mendidik dan membesarkannya.

Dan karena tak mengharapkan balas jasa dari anak, maka semua yang dilakukan itu tidak dinamakan jasa, tidak dinamakan pengorbanan tetapi kasih sayang.

Baca Juga: Ngeri! Pria di Korea Utara Dijatuhi Hukuman Mati Jual Salinan Squid Game

Ya sebelum tersentuh tangan-tangan mereka itu, seperti apakah kita. Kita bukan apa-apa. Kita bukan siapa-siapa. Kita adalah bayi yang belum bisa berbuat apa-apa. Nah sadari itu. Maka oleh para sepuh kita diajari "aja adigang adigung adiguna", jangan sewenang-wenang.

Kita juga diajari "mikul duwur mendem jero" mengakui dan menghormati jasa para pendahulu dan melupakan kekhilafan mereka. Tentu lebih-lebih jangan melupakan siapa yang menciptakan kita.

Tuhan yang menciptakan kita, memberi hidup dan kehidupan kita. Apa yang dilakukan orang untuk kita dan kemudian kita menikmatinya, hanya bisa terjadi karena ridla dan perkenanNya.

Sebenarnya kalau kita ingin melihat sentuhan orang lain pada diri kita, juga sentuhan Tuhan kepada diri kita, kita cukup melihat diri kita.

Baca Juga: Komentar Soal Pernikahan, Park Shin Hye: Aku Ingin Menemukan Pria Seperti Ayahku

Bandingkan diri kita yang sekarang dengan diri kita beberapa waktu sebelumnya, apalagi dengan diri kita saat bayi. Itulah asal kita yang jangan dilupakan. "Aja lali karo asale".

Nah jangan lupa, itu terjadi karena sentuhan orang lain dan sentuhan Tuhan. Syukurilah. Mari kita baca S.51 Adz Dzariat ayat 21, artinya : "dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?"

HR Ahmad, Abu Daud dan At Timidzi dari Abi Hurairah yang artinya: "barang siapa belum berterima kasih kepada manusia, dia belum bersyukur kepada Allah".

(Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah-)

Halaman:
1
2

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Pendidikan Reproduksi Sehat Terpadu

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:21 WIB

Cincing-Cincing Meksa Klebus

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:15 WIB

Hubbul Wathon Minal Iman

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:10 WIB

KH Imam Ghozali, Perintis Perguruan Al-Islam

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:01 WIB

Mereduksi Intoleransi, Merangkul Perbedaan

Jumat, 7 Januari 2022 | 04:53 WIB

Apa Alane Gawe Seneng Liyan

Jumat, 7 Januari 2022 | 04:47 WIB

Dakwah Bilhal Kiai Kholil bin Mahalli Benda

Jumat, 7 Januari 2022 | 04:43 WIB

Mahram pada Perjalanan Perempuan

Jumat, 7 Januari 2022 | 04:36 WIB
X