Ujian untuk MUI

- Kamis, 25 November 2021 | 23:00 WIB
Abu Rokhmad Musaki (sm/dok) 
Abu Rokhmad Musaki (sm/dok) 

Baca Juga: Penting, Cari Aman Merawat Mesin Kendaraan

Lebih-lebih, peran MUI tidak jarang bersinggungan dengan peran dan fungsi Ormas Islam lain. Harus diakui, ada bagian dari pekerjaan MUI yang memiliki implikasi ekonomi yang dapat memicu kecemburuan.

Hubungan MUI dengan Ormas Islam lain boleh dibilang seperti relasi Tom and Jerry. Memang sudah ada ‘bagi-bagi tugas’ perjuangan. Tidak bisa dibilang tanpa masalah.

Tidak pas juga bila dikatakan baik-baik saja. Ada kontestasi dan mungkin kompetisi. Sesekali bertemu dan bergembira ria, tetapi lebih sering saling memberikan penilaian negatif kepada kedua belah pihak.

Usaha untuk mengecilkan MUI sudah sering dilakukan dan berulang-ulang. Celakanya, usaha itu seperti sia-sia. Malah, peran-peran MUI semakin kuat dan dilegalkan. Tidak sedikit UU yang menyebut peran dan posisi secara formal.

UU Perbankan Syariah, UU Jaminan Produk Halal dan UU Cipta Kerja secara khusus menyebut MUI. Lembaga-lembaga yang mengatur dan mengawasi keuangan Syariah, seperti BI dan OJK, juga menempatkan MUI pada posisi yang penting dan strategis.

Baca Juga: Dipercaya Bermain Lawan PSM Makassar, Kartika Vedhayanto: Siap Tampil Maksimal

MUI, sebagaimana ormas lainnya dan apapun yang ada di dunia ini, terkena hukum sebagai makhluk. Ia bisa binasa (fana). Ia bisa bubar dengan sendirinya atau dibubarkan oleh pihak lain.

Jika tidak bermanfaat, untuk apa ada MUI? Jika manfaatnya ada tetapi hanya untuk segelintir orang, apakah seperti itu niat didirikannya MUI?

MUI bukan lembaga swadaya masyarakat yang dibentuk hanya untuk (maaf) memperjuangkan kepentingan duniawi tertentu. MUI bukan partai politik yang berdiri untuk berjuang dalam rangka mendapatkan posisi-posisi publik. MUI juga bukan dunia usaha atau perusahaan yang ingin memperoleh keuntungan.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

X