Duwur Wekasane Endek Wiwitane

- Jumat, 4 Juni 2021 | 21:48 WIB
foto: Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah (sm/dok)
foto: Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah (sm/dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Artinya akhir yang tinggi dimulai dari awal yang rendah. Ini sangat alami, sangat manusiawi. Adakah orang menebar benih langsung muncul pohon yang tinggi. Nonsen, tidak ada alias mustahil. Tuhan menjadikan sesuatu itu melalui proses.

Ya tadi, kita menebar benih maka akan muncul bibit pohon yang kecil dan rendah. Kemudian berproses tumbuh dan menjadi besar dan tinggi. Kita menjadi seperti sekarang ini dimulai dengan menjadi bayi dengan tinggi hanya beberapa puluh cm.

Setelah melewati proses kita menjadi dewasa dengan ketinggian di atas 150 cm. Kita sekolah mulai dari SD atau TK kemudian setelah berproses kita lulus S.1, S.2 dan S.3. Dan sebagian menjadi professor dan seterusnya.

Seseorang yang menduduki posisi tertentu dan kepadanya akan diberikan posisi yang lebih tinggi biasanya diminta untuk mengikuti penataran atau upgrading atau pendidikan penjenjangan dan sebagainya.

Semuanya itu menggambarkan bahwa untuk menjadi "sesuatu" atau menjadi "orang" harus melewati proses. Tidak ada yang ujug-ujug. Ada juga predikat yang disematkan kepada mereka yang menerima posisi lebih tanpa melewati proses penjenjangan di atas dengan istilah "karbitan".

Tentu istilah ini adalah sindiran dan tidak kita harapkan. Dan kalau dia ambisius untuk itu, padahal gradenya belum mencapai, maka para sepuh menamakan yang begitu itu dengan "durung pecus keselak besus", belum saatnya sudah ingin nama besar atau posisi tinggi.

Kembali kepada pitutur kita bahwa dari endek wiwitane akan mencapai duwur wekasane ini alami dan manusiawi sehingga semua orang akan menerimanya sebagai kewajaran.

Sukses harus dimulai dengan langkah awal. Ya tekun ya prihatin. Pernah menyaksikan acara Kick Andy dari Andy F Noya ? Nah dengar cerita ini. Ini adalah salah satu episode Kick Andy mengenai ketekunan yang membuahkan hasil gemilang.

Ada seorang anak bernama Puji Utomo, anak dari seorang penjual ikan di Pati. Meskipun nilai sekolahnya bagus tetapi sulit dibayangkan dia akan mampu duduk di bangku kuliah karena faktor ekonomi sama sekali tidak mendukung. Prestasinya di SMU dan usahanya yang tak mengenal lelah membuatnya mendapat beasiswa dari Universitas Gajah Mada.

Namun beasiswa itu belum mencukupi kebutuhannya sehingga dia harus mengajar di berbagai tempat bimbingan belajar. Bahkan agar tidak perlu mengeluarkan biaya untuk kost dia menjadi merbot sebuah masjid dan tidur di sana.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Mendalami Alquran Melalui Grammar, Ad Darsul Awwal

Minggu, 20 Juni 2021 | 22:21 WIB

Mendalami Alquran Melalui Grammar

Sabtu, 19 Juni 2021 | 15:57 WIB

Kiai Muhtadi, Ulama Ahli Pawang Udan

Jumat, 18 Juni 2021 | 02:43 WIB

Edukasi Medsos Maslahah

Jumat, 18 Juni 2021 | 02:36 WIB

Thenguk-Thenguk Nemu Kethuk

Jumat, 18 Juni 2021 | 02:29 WIB

Tugas Pengurus MUI

Jumat, 18 Juni 2021 | 02:24 WIB

Baiti Jannati, Rumahku Surgaku

Jumat, 11 Juni 2021 | 01:31 WIB

Abot Telak Karo Anak

Jumat, 11 Juni 2021 | 01:29 WIB

Maqashid Syariah Pembatalan Haji

Jumat, 11 Juni 2021 | 01:26 WIB

KH Syamsuri Brabo, Terpaksa Menggadaikan Kitab

Jumat, 4 Juni 2021 | 22:10 WIB

Istiqamah dan Kebahagiaan Berkeluarga

Jumat, 4 Juni 2021 | 22:03 WIB

Duwur Wekasane Endek Wiwitane

Jumat, 4 Juni 2021 | 21:48 WIB

Istithaah dalam Ibadah Haji

Jumat, 4 Juni 2021 | 21:41 WIB
X