Suluk Santri Sepuh di Ponpes Al Fatah Banjarnegara

- Senin, 3 Mei 2021 | 19:22 WIB
suaramerdeka.com/dok
suaramerdeka.com/dok

BANJARNEGARA, suaramerdeka.com - Perjalanan hidup dan iman manusia terkadang mengalami pasang surut di tengah godaan duniawi.  Kesadaran untuk selalu kembali menapaki jalan yang benar itu melatarbelakangi puluhan lansia  pria mengikuti pesantren suluk di Pondok Pesantren Al Fatah, di Kelurahan Parakancanggah, Kecamatan  Banjarnegara.

Di masa pandemi Covid-19 ini, jumlah santri suluk pada bulan Ramadan kali ini jauh berkurang. Meski  demikian, puluhan lansia dari Banjarnegara, Wonosobo, Batang, Purbalingga hingga Temanggung tetap  patuh menapaki jalan suluk di Ponpes Al Fatah.

Salah satunya, Suwito (90) asal Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo, yang menjadi santri paling  pada sepuh. Dia datang bersama dengan anaknya, Kholidin (50) untuk menjalani suluk pada Ramadan ini  di Ponpes Al Fatah. “Sejak saya muda waktu masih zamannya Bung Karno, saya sudah ikut pesantren  suluk di sini,” ujarnya.

Baca Juga: Suluk Bumi Santri Mengabarkan Kearifan Lokal

Menurutnya, mengikuti pesantren suluk memberikan ketenangan bagi jiwa. Dia menghabiskan waktu  sekitar 20 hari untuk fokus ibadah dan zikir untuk mengangungkan Allah SWT. Kesempatan ini juga  menjadi momen untuk merenungi perjalanan hidupnya. Selain di bulan Ramadan, dia juga ngaji suluk  pada bulan Rajab dan Muharram. "Namun suluk di bulan Ramadan terasa lebih istimewa," tuturnya.

Pengasuh Ponpes Al Fatah sekaligus Mursyid Thoriqoh Naqsabandiyah Kholidiyah KH Nurul Huda  mengatakan, tradisi suluk ini sudah  ada sejak Ponpes Al Fatah berdiri tahun 1901. Suluk memiliki  makna menapak, yakni proses untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.

Selama di pondok, santri dibimbing untuk introspeksi dan bertobat melalui kegiatan ibadah dan  zikir. Selain itu, santri juga mengikuti serangkaian kegiatan keagamaan yang muaranya untuk  mendekatkan diri kepada Allah.   

“Sama seperti pesantren umunya, usai mengikuti pesantren suluk ini santri juga diwisuda.  Diharapkan, setelah diwisuda bisa kembali ke rumah masing-masing sebagai pribadi yang lebih  berkualitas,” ujar Huda.

Ramadan tahun lalu, pesantren suluk ditiadakan karena pandemi korona. Tahun ini, kembali diadakan  dengan protokol kesehatan yang ketat. “Kami sangat ketat melakukan skrining, jadi hanya ada 80  santri yang ikut suluk pada ramadan ini. Saat kondisi normal bisa mencapai 200 santri,” tuturnya.

Halaman:

Editor: Maya

Tags

Terkini

Amalkan Shalawat Ini, Dapatkan Syafaat di Hari Kiamat

Selasa, 19 Oktober 2021 | 07:12 WIB

Bau Badan dan Mulut? Ini Doanya

Senin, 18 Oktober 2021 | 09:06 WIB

Dom Sumurup Ing Banyu

Jumat, 15 Oktober 2021 | 05:39 WIB

Penjalin Rotan Kiai Imam Sarang

Jumat, 15 Oktober 2021 | 05:08 WIB

Wasiat Rasulullah dan Perlindungan Sosial

Jumat, 15 Oktober 2021 | 04:45 WIB

Keharusan Moderasi Beragama

Jumat, 15 Oktober 2021 | 04:10 WIB

Meringkas Rakaat Shalat, Begini Caranya

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:03 WIB
X