USM Gelar Kajian Kitab Al Hikam

- Sabtu, 17 April 2021 | 02:13 WIB
USM saat menggelar kegiatan kajian kitab Al Hikam. (suaramerdeka.com/Jati Prihatnomo) (Jati Prihatnomo)
USM saat menggelar kegiatan kajian kitab Al Hikam. (suaramerdeka.com/Jati Prihatnomo) (Jati Prihatnomo)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Universitas Semarang (USM) menggelar kajian dhuha ramadhan di Masjid Baitur Rasyid USM dengan menghadirkan Dr. K.H. In’amuzzahidin, MA pengasuh pondok pesantren Nurul Hidayah, Semarang pada Jum’at (16/4).

Kajian dhuha  ini mengkaji Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah ini terbuka untuk umum dan disiarkan secara langsung melalui Youtube chanel Fokmi TV. Turut hadir dalam kesempatan ini para dosen, mahasiswa, dan karyawan sebanyak 30 orang.

Menurus Gus In’am panggilan akrab Dr KH In’amuzzahidin dipertemukannya kita dengan bulan suci ramadhan 1442 H ini merupakan bagian dari pemberian Allah SWT yang sangat kita tunggu setiap tahunnya.

“Saat ini kita bisa berjumpa dengan ramadhan adalah pemberian dan pertolongan dari Allah SWT sesuai dengan doa yang diajarkan Rasulullah Ketika memasuki bulan rajab Ya Allah berkahilah kami di bulan rajab, bulan sy’ban dan sampaikanlah kami di bulan Ramadhan, sehingga harus kita syukuri” ungkap Gus In’am.

Pada kajian ini Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hidayah ini menjelaskan pasal 1 pada kitab Al Hikam yaitu “Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya, adalah kurangnya ar-raja’ (rasa harap kepada rahmat Allah) di sisi alam yang fana."

Dalam diri kita terdapat amal baik dan amal kejelekan, amal baik mendapatkan balasan yang baik dan amal kejelekan mendapatkan balasan jelek.

“Ayo selagi masih hidup buatlah amal sebanyak mungkin, karena kita tidak tahu amal mana yang akan diterima oleh Allah SWT kecuali Allah mencurahkan rahmatya kepada kita” ungkap Gus In’am.

“Orang yang berpegang pada amal baik dan amal sholeh belum tentu masuk surga, maka dari itu beribadahlah kepada Allah SWT karena ikhlas bukan karena kita mengharapkan suatu balasan, seperti seorang bayi yang bersandar hidup pada ibunya saja hidupnya terpenuhi, apalagi kita bersandar hidup pada Allah  maka Allah pasti akan memenuhi kebutuhan kita” tambahnya.

Gus In’am menambahkan bahwa fungsi utama kita diciptakan menjadi manusia itu bukan untuk menjadi kaya dan memiliki banyak uang, akan tetapi fungsi utama kita menjadi manusia itu untuk beribadah, maka musibah terbesar dalam hidup kita bukan karena kita mendapatkan banyak masalah, bukan karena tidakpunya harta, tetapi musibah sesungguhnya adalah dimana kita tidak bisa beribadah.

Selain itu  kita tidak boleh sombong dengan amal sholeh kita, jangan dikira orang beramal baik tidak ada peluang untuk sombong, untuk itu kita berharap amalan kita mendapatkan ridlo dari Allah, sebab kesombongan itu tidak hanya muncul dari harta dan kekayaan, tetapi dari amal sholeh yang kita miliki.

Halaman:

Editor: Rosikhan

Tags

Terkini

X