Aja Leren Lamun Durung Sayah

- Kamis, 11 November 2021 | 20:15 WIB
foto: Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah (sm/dok)
foto: Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah (sm/dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Jangan berhenti sebelum lelah. Sebetulnya pitutur kita kali ini bunyi lengkapnya adalah "Aja leren lamun durung sayah. Aja mangan lamun durung luwe. Aja lali karo asale".

Ada garis merah antara ketiganya, namun karena perbedaan pengamalannya, apalagi bila disajikan dalam sekali tulis akan terlalu panjang, maka pitutur ini akan disampaikan dalam tiga sajian.

Aja leren lamun durung sayah mengajak kita agar selalu aktif selagi usia masih ada kecuali fisik sudah tidak memungkinkan. Kebanyakan orang apabila datang masa pensiun merasa kegiatannya berakhir. Bahkan ada yang beranggapan bahwa dengan usianya itu segalanya berakhir.

Baca Juga: Permendikbud Jadi Kontroversi, Nadiem Bantah Halalkan Seks Bebas dan Perzinaan

Mereka mencoba membuat senang atau lebih tepatnya menyenangkan diri, menutupi sindromnya dengan membuat ungkapan "menikmati masa pensiun, atau menikmati masa tua" dengan mengakhiri aktifitasnya.

Meskipun dari sisi ekonomi mungkin orang berkecukupan sampai akhir hayatnya, namun jujur harus diakui bahwa orang yang berhenti beraktifitas akan mengurangi jumlah teman, akan mengurangi gerak fisik, akan mengurangi penggunaan otaknya untuk berfikir dan merencanakan kehidupannya.

Padahal dengan tetap aktifnya ketiga hal itulah sebenarnya hidup akan berarti, atau bisa kita katakan dengan tiga hal itulah tujuan hidup akan terwujud. Ada baiknya kita mendengar apa kata Mahathir Muhammad.

Baca Juga: The Big Quit: Fenomena Resign Massal di Amerika Serikat, Apa penyebabnya?

Beliau yang di usia 92 tahun masih menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia itu berbagi rahasia tentang kondisi primanya di usia tua, yakni dengan tetap aktif beraktivitas. Dia katakan "saya menyarankan orang-orang yang tua tidak berhenti beraktivitas. Ketika berhenti, kemampuan tubuh jadi menurun dan lemah, dan mungkin jadi pikun," Hal yang ia sampaikan itu sama seperti yang dikatakan para dokter mengenai otot.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pendidikan Reproduksi Sehat Terpadu

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:21 WIB

Cincing-Cincing Meksa Klebus

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:15 WIB

Hubbul Wathon Minal Iman

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:10 WIB

KH Imam Ghozali, Perintis Perguruan Al-Islam

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:01 WIB

Mereduksi Intoleransi, Merangkul Perbedaan

Jumat, 7 Januari 2022 | 04:53 WIB

Apa Alane Gawe Seneng Liyan

Jumat, 7 Januari 2022 | 04:47 WIB

Dakwah Bilhal Kiai Kholil bin Mahalli Benda

Jumat, 7 Januari 2022 | 04:43 WIB

Mahram pada Perjalanan Perempuan

Jumat, 7 Januari 2022 | 04:36 WIB
X