Penjalin Rotan Kiai Imam Sarang

- Jumat, 8 Oktober 2021 | 01:35 WIB
Kiai Imam Khalil yang akrab disapa Kyai Imam Sarang, terkenal dengan karomah penjalinnya
Kiai Imam Khalil yang akrab disapa Kyai Imam Sarang, terkenal dengan karomah penjalinnya

SEMARANG, suaramerdeka.com - Setiap tanggal 30 September masyarakat Indonesia teringat dengan peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia, dimana saat itu terjadi pembantaian yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Mereka bahkan tak segan-segan membantai para kiai dan santri. Meletusnya peristiwa G30S/PKI merupakan usaha makar untuk mewujudkan Negara Komunis Indonesia. Ingin mengganti ideologi Pancasila.

Setelah tragedi pemberontakan 1948, PKI kembali melancarkan aksinya pada 1965. Saat itu, para ulama khususnya dari kalangan NU mempunyai peran penting menumpas gerakan 30 September itu. Salah satunya adalah Kiai Imam Khalil yang akrab disapa Kyai Imam Sarang, terkenal dengan karomah penjalinnya.

Diceritakan dalam buku Manaqib KH Imam Khalil Kyai Sufi Membumi (editor M. Ali Rofiq), sebelum meletusnya peristiwa G/30S/PKI, selama tiga hari berturut-turut di Pesantren Sarang Kabupaten Rembang-Jateng, Kiai Imam Khalil selalu mengumandangkan adzan subuh. Hal itu membuat gempar orang-orang yang mendengarnya.

Baca Juga: Kaduk Wani Kurang Duga

Sebab, ketika adzan subuh terdengar suara Kiai Imam Khalil pasti akan terjadi sesuatu yang mengerikan, entah bencana, musibah, atau hal-hal yang lain. Pada waktu itu ada salah satu santri yang pulang ke rumahnya.

Ia lalu menanyakan perihal adzan Subuh kiainya di pesantren kepada sang ayah, “Pak ape ono opo iki kok Mbah Imam adzan subuh mben isuk sampek tigang dinten?” (Pak mau ada apa ini? Kok Kiai Imam adzan subuh tiap pagi hari sampai tiga hari) “Iki ape ono parigawe cong” (Ini mau ada peristiwa besar nak) jawab wali santri tersebut.

Dan dalam waktu kurang dari sebulan datanglah PKI ke wilayah Sarang. Satu minggu sebelum kejadian itu, tepat pada Jumat, Kiai Imam Khalil memesan bambu runcing dalam jumlah besar. Bambu-bambu tersebut lalu diserahkan Kiai Imam Khalil kepada santri-santrinya.

Dengan memberanikan diri, ada salah seorang santri menanyakan perihal bambu tersebut, ”Niki kangge nopo mbah (ini untuk apa Mbah?). Kiai Imam Khalil lantas menjawab, “Iki kanggo jogo-jogo (ini untuk jaga-jaga)."

Memanggil Pengurus

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Kekudhung Walulang Macan

Jumat, 21 Januari 2022 | 03:17 WIB

Penyakit Umat Beragama

Jumat, 21 Januari 2022 | 03:13 WIB

Pendidikan Reproduksi Sehat Terpadu

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:21 WIB

Cincing-Cincing Meksa Klebus

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:15 WIB

Hubbul Wathon Minal Iman

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:10 WIB

KH Imam Ghozali, Perintis Perguruan Al-Islam

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:01 WIB

Mereduksi Intoleransi, Merangkul Perbedaan

Jumat, 7 Januari 2022 | 04:53 WIB

Apa Alane Gawe Seneng Liyan

Jumat, 7 Januari 2022 | 04:47 WIB
X