Memilih Makanan Halal

- Jumat, 8 Oktober 2021 | 01:27 WIB
Prof Dr Mudjahirin Thohir
Prof Dr Mudjahirin Thohir

 

SEMARANG, suaramerdeka.com - Untuk dapat hidup sehat, manusia perlu makan. Tetapi tidak setiap jenis makanan yang tersedia dengan sendirinya dipilih atau diperbolehkan untuk dimakan.

Hal ini karena masalah ketersediakan makanan dan aktivitas makan tidak semata-mata sebagai aktivitas fisik manusia untuk pemenuhan naluriahnya seperti lapar.

Di dalam kata “makanan”, di dalamnya melekat dan dilekati bukan hanya menurut ukuran-ukuran medis-biologis, tetapi juga melekat di dalamnya dimensi sosial budaya dan agama.

Kalau dalam pendekatan medis-biologis, makanan dikenal dengan istilah nutrimen. Nutriment adalah suatu konsep biokimia, suatu zat yang mampu untuk memelihara dan menjaga kesehatan organisme tubuh yang menelannya, atau sebaliknya yaitu menurunkan kesehatan alias menjadi penyebab sakit.
Dalam istilah sosial-budaya, makanan lebih luas lagi dimensinya. Karena itu, dalam istilh antropologi gizi, makanan dikenal ke dalam istilah food.

Istilah food mengacu pada konsep makanan tidak hanya memberi pengaruh sehat atau sakit secara biologis, tetapi juga kelaziman termasuk prestise sosial.

Segala jenis binatang yang dikonsumsi oleh orang-orang Wuhan Cina misalnya, adalah perlawanan dengan pilihan makanan umumnya orang Indonesia, apalagi bagi orang muslim.

Sementara dalam perspektif keagamaan, dikenal istilah halalan toyyiba, yakni sah dan baik untuk dikonsumsi dalam rangka pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani.

Baca Juga: Kaduk Wani Kurang Duga

Makanan dalam tradisi sosial budaya, yaitu food, di dalamnya terdapat penjelasan budaya mengenai kategori (bahan) makanan anjuran lawan makanan tabu (larangan); makanan prestise lawan makanan rendah; makanan dingin lawan makanan panas, dan sebagainya.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Kekudhung Walulang Macan

Jumat, 21 Januari 2022 | 03:17 WIB

Penyakit Umat Beragama

Jumat, 21 Januari 2022 | 03:13 WIB
X