Reformulasi Fiqh Keluarga

- Kamis, 30 September 2021 | 21:48 WIB
Abu Rokhmad Musaki. (suaramerdeka.com/dok)
Abu Rokhmad Musaki. (suaramerdeka.com/dok)

suaramerdeka.com - Isu-isu hukum keluarga Islam (fiqh al-ahwal al-syakhshiyyah) sangat strategis dikaji sebab keluarga merupakan unit terkecil komunitas yang menjadi basis dan cermin kualitas komunitas yang lebih besar.

Negara yang baik dan sejahtera akan mudah tercapai bila kondisi keluarga terjamin hak dan kewajibannya. Keluarga yang amburadul dan penuh intimidasi akan memperberat bangsa ini untuk meraih cita-cita kemerdekaannya.

Baik atau buruknya bangunan keluarga dapat dilihat dari sisi apakah hukum perkawinan yang menjadi landasan terbentuknya keluarga terformulasikan dengan visi keadilan atau tidak.

Al-Qur’an menegaskan bahwa perkawinan adalah suatu perjanjian yang kokoh (mitsaqan ghalidha), dan bukan sekedar kontrak sosial biasa (seperti ‘aqd al-tamlik atau ‘aqd mu’awadah).

Perkawinan dalam UU No. 1 Tahun 1974 didefinisikan sebagai ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Definisi perkawinan dalam UU ini, jauh lebih maju daripada definisi yang dirumuskan oleh fikih mazhab.

Dalam fikih, nikah adalah “akad yang ditentukan Syari’ agar si suami dapat memanfaatkan kemaluan si isteri dan anggota tubuhnya yang lain sehingga dapat merasakan kenikmatan” (al-Jaziry: 8-9).

Definisi ini mengidentikkan nikah dengan persenggamaan dan syahwat yang menempatkan laki-laki sebagai aktor utama sementara perempuan adalah obyek seks semata.

Perkawinan sebagai ikatan yang suci antara suami dan isteri, mirip dengan kesucian hubungan antara Allah Swt dengan para nabi dan rasul-Nya (Nasution, 2009: 221).

Oleh karena itu, perkawinan dalam Islam bukan sekedar restu, juga bukan sekedar pengakuan atau legalisasi hubungan seorang pria dan wanita (court of law), tetapi merupakan perjanjian suci, kokoh dan kuat (Arifin, 1996: 98) antara laki-laki dan perempuan.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Terkini

Kekudhung Walulang Macan

Jumat, 21 Januari 2022 | 03:17 WIB

Penyakit Umat Beragama

Jumat, 21 Januari 2022 | 03:13 WIB

Pendidikan Reproduksi Sehat Terpadu

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:21 WIB

Cincing-Cincing Meksa Klebus

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:15 WIB

Hubbul Wathon Minal Iman

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:10 WIB

KH Imam Ghozali, Perintis Perguruan Al-Islam

Jumat, 14 Januari 2022 | 04:01 WIB

Mereduksi Intoleransi, Merangkul Perbedaan

Jumat, 7 Januari 2022 | 04:53 WIB

Apa Alane Gawe Seneng Liyan

Jumat, 7 Januari 2022 | 04:47 WIB

Dakwah Bilhal Kiai Kholil bin Mahalli Benda

Jumat, 7 Januari 2022 | 04:43 WIB

Mahram pada Perjalanan Perempuan

Jumat, 7 Januari 2022 | 04:36 WIB
X