Kekerasan Terhadap Perempuan

- Kamis, 23 September 2021 | 22:40 WIB
Prof Dr Sri Suhandjati ,Pengurus MUI Jawa Tengah /sm.dok
Prof Dr Sri Suhandjati ,Pengurus MUI Jawa Tengah /sm.dok


suaramerdeka.com - Disamping masalah kesehatan, dampak pandemi merambah pula dalam kehidupan rumah tanggga.

Dari data Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan diketahui bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan meningkat selama pandemic Covid-19.

Hal ini dapat diketahui dari data Lembaga Layanan Mitra Komnas Perempuan tahun 2020 sebanyak 8.389 kasus.

Dari jumlah tersebut diketahui kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menempati urutan paling banyak.

KDRT bertentangan dengan tujuan pernikahan. Karena pernikahan merupakan jalan untuk meraih kebahagiaan hidup didunia sampai akherat kelak.

Dengan menikah, manusia akan mempunyai generasi penerus yang dapat melanjutkan cita cita serta tugasnya sebagai khalifah dibumi.

Antara lain menjaga dan melestarikan bumi serta lingkungan alam dan sosialnya. Karena umur manusia terbatas,maka perlu mendidik dan menyiapkan anak keturunannya agar dapat melaksanakan tugas tersebut.

Maka suami dan isteri harus bekerja sama untuk menciptakan kedamaian dalam keluarganya,agar usaha pendidikan anak berhasil sesuai tuntunan agama.

Tujuan pendidikan dalam keluarga dapat gagal, manakala terjadi kekerasan dalam rumah tangga, Karena dampaknya akan dirasakan pula oleh semua penghuni rumah.

Apalagi kalau dampak kekerasan fisik itu mengakibatkan cedera atau cacat tubuh, maka ketegangan dapat berlangsung lebih lama.

Kekerasan fisik ,kadang merupakan kelanjutan dari kekerasan psikis

Atau sebaliknya,berawal dari kekerasan fisik dapat berlanjut dengan kekerasan psikis. Dan semua bentuk kekerasan,akan berdampak buruk bagi anak.

Padahal anak adalah generasi penerus cita cita dan tugas keluarga. Sebagai mahluk Allah, manusia mempunyai tugas sebagai khalifah dibumi.

Diantara tugasnya adalah menjaga kelestarian alam serta mengelolanya untuk kesejahteraan manusia dan mahluk ciptaan Allah lainnya.

Namun, karena manusia mempunyai keterbatasan dalam usia maupun kemampuan fisik dan psikisnya,maka manusia berkewajiban menyiapkan generasi penerus. Untuk tujuan tersebut, manusia perlu menikah agar mempunyai keturunan.

Dan bersama pasangannya, suami maupun isteri mempunyai tanggung jawab untuk merawat, membesarkan serta mendidik anak anaknya nya agar dapat melanjutkan tugas pengabdiannya kepada Allah.

Manakala terjadi perceraian antara suami isteri,maka isteri mempunyai hak untuk mengasuh anak yang belum baligh atau berkebutuhan khusus.

Selama isteri belum menikah dengan orang lain,maka ia masih bisa mengasuh anaknya itu sampai baligh atau bisa mengurus dirinya.

Setelah itu,apabila masih terjadi perselisihan antar mantan suami dengan mantan isteri karena masing masing ingin mengasuh anaknya, maka Pengadilan Agama yang berhak menentukan siapa yang lebih baik bagi masa depan anaknya.

Apabila mantan suami dan mantan isteri sama baiknya, maka anak diberi kebebasan untuk menentukan pilihan ikut ibu atau ayahnya. Sehingga terjadinya perceraian suami dengan isterinya, tidak memutus pertalian anak dengan ibu dan ayahnya.

Demikian pula orang tuanya,meskipun anak sudah memilih ikut salah satu dari orang tuanya,namun masing masing mantan suami dan isteri itu punya tanggung jawab untuk membesarkan dan membimbing anak agar bisa mandiri dan hidup dijalan yang benar.

Namun dalam kenyataannya,sebagian suami yang bercerai dengan isterinya, ada yang melalaikan kewajibannya untuk memberi nafkah dan perhatian bagi anaknya. Sehingga berdampak buruk bagi kelangsungan hidup dan pendidikan anak.

Persoalan semacam ini ,diharapkan bisa teratasi dengan adanya hak asuh anak (hadhanah) ditangan ibu. Karena ibu yang mengandung dan melahirkan anaknya, tidak akan membiarkan anak terlantar.

Ia akan berjuang untuk membesarkan serta mendidik anaknya agar bisa mandiri dan meraih kebahagiaan hidup didunia sampai akheratnya.

Pandemi dapat memicu timbulnya konflik

Kesulitan ekonomi yang timbul karena terjadinya pandemi,menyebabkan bertambah nya persoalan yang dihadapi keluarga.

Ketika kebutuhan pokok tidak tercukupi,maka sebagian suami dan isteri merasakan bertambah berat beban hidupnya. Disaat itulah,rawan terjadinya saling menyalahkan antar suami isteri atau antar anggota keluarga yang dapat memicu timbulnya pertengkaran.

Dampaknya dapat berlanjut dengan terjadinya kekerasan psikis dengan gejala antara lain berupa timbulnya ketakutan, hilangnya rasa percaya diri dan timbulnya rasa tidak berdaya.

Dalam kondisi semacam ini,seseorang menjadi rentan terkena penyakit dan kehilangan semangat untuk melakukan kewajiban dalam rumah tangganya.

Bagi yang menyadari timbulnya gejala yang melemahkan fisik maupun psikisnya, maka dapat mencari solusi dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah, antara lain dengan melaksanakan shalat tahajud.

Hasil penelitian Prof Muhammad Shaleh, menunjukkan adanya pengaruh positif dari shalat tahajud yang dilakukan dengan ihlas semata mata mencari keridloan Allah dengan kesehatan jasmani maupun rohani.

*Prof Dr Sri Suhandjati, (Ketua MUI Jawa Tengah bidang PRK)

 

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Terkini

Doa Nabi Adam AS, Memohon Ampunan kepada Allah SWT

Sabtu, 4 Desember 2021 | 19:06 WIB

Selektif Memilih Pengurus

Kamis, 2 Desember 2021 | 21:09 WIB

Komunikasi Jadi Pilar Kebahagiaan Keluarga

Kamis, 2 Desember 2021 | 21:01 WIB

Bungah Sajeroning Susah, Susah Sajeroning Bungah

Kamis, 2 Desember 2021 | 20:54 WIB

Ini Keutamaan Membaca Tasbih dan Tahmid

Kamis, 2 Desember 2021 | 07:08 WIB

Ini Manfaat Dahsyat dari Membaca Doa Sebelum Tidur

Senin, 29 November 2021 | 17:04 WIB

5 Nasehat Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi

Sabtu, 27 November 2021 | 03:37 WIB
X