Pesantren Agen Perjuangan Kelas

- Kamis, 23 September 2021 | 22:15 WIB
Mohammad Roqib. (suaramerdeka.com)
Mohammad Roqib. (suaramerdeka.com)

Kedua, selain khawatir akan belokan kesibukan pengasuh pesantren juga khawatir Perpres ini akan menyulut semangat sebagian oknum luar pesantren untuk mendirikan pesantren hanya untuk motiv “proyek duniawi” berlabel pesantren, yang berimplikasi pada “mencoreng” nama bak pesantren yang dikenal dengan kesederhanaan, kemandirian, dan keilmuan yang terintegrasi dengan spiritualnya.

Paket “integratif” ini bisa-bisa tersingkir dari tradisi adiluhung pesantren jika tidak diantisipasi sedini mungkin.

Lebih dari itu oknum ini akan melangkah untuk menjebol tradisi dan ideologi pesantren yang dikenal nasionalis-toleran dengan tradisi dan ideologi baru yang kasar dan radikal.

Kekhawatiran ini sudah diantisipasi oleh Kementerian Agama dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Agama (PMA) nomor 30 tahun 2020 tentang Pendirian Penyelenggaraan Pesantren yang berusaha memagari sedari awal proses pendaftaran pesantren ke Kementerian Agama melalui syarat-syarat sebanyak 27 syarat di antaranya harus melampirkan;

Struktur Organisasi Pesantren, Data Tenaga Pendidik, Data Tenaga Kependidikan, Data Santri, Data Kurikulum, dan Daftar Kitab Kuning yang jika dilakukan secara ketat akan mampu menyeleksi paham-paham yang bertentangan dengan undang-undang yang berlaku.

Pada PMA ini pasal 20 juga disebutkan bahwa kyai (pesantren) harus berpendidikan pesantren yang dibuktikan dengan syahadah atau surat keterangan pernah belajar di pesantren.

Hanya saja dalam praktiknya pelaksanaan pasal ini masih disangsikan dengan bukti banyak pesantren yang lahir dan pengasuhnya bukan alumni, bersyahadah pesantren, atau minimal mendapatkan rekomendasi dari kyai sepuh yang punya otoritas untuk memberikan garansi intelektua dan spiritual sang kyai.

Meski bisa diperdebatkan, upaya hati-hati diperlukan agar nasionalisme dan cinta tanah air tetap terjaga dengan baik.

Pesantren Mentransformasikan Kelas Sosial Rendah

Telah diakui bahwa pesantren menjadi agen dalam perjuangan kelas. Tidak hanya tempat anak-anak untuk belajar agama, tetapi telah menjadi ruang kultural dalam transformasi “kemiskinan” atau kekurangan menjadi sesuatu yang lebih baik.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Terkini

Ini Manfaat Dahsyat dari Membaca Doa Sebelum Tidur

Senin, 29 November 2021 | 17:04 WIB

5 Nasehat Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi

Sabtu, 27 November 2021 | 03:37 WIB

Menutup Aurat bagi Muslimah

Kamis, 25 November 2021 | 23:21 WIB

Aja Lali Karo Asale

Kamis, 25 November 2021 | 23:12 WIB

Ujian untuk MUI

Kamis, 25 November 2021 | 23:00 WIB

Penanda Shalat Segera Dimulai, Berikut Lafal Iqamah

Kamis, 25 November 2021 | 16:58 WIB

Agar Tidak Mudah Mengantuk, Ini Doa yang Dapat Diamalkan

Selasa, 23 November 2021 | 06:46 WIB
X