Kita dan Air

- Kamis, 9 September 2021 | 22:35 WIB
Sekretaris MUI Jawa Tengah, Dr Ummul Baroroh MAg. (suaramerdeka.com/dok)
Sekretaris MUI Jawa Tengah, Dr Ummul Baroroh MAg. (suaramerdeka.com/dok)

Pekan terakhir ini, kita yang tinggal di beberapa wilayah telah diberi karunia oleh Allah, yang berupa hujan yang lebat, meskipun tidak berlangsung lama.

Hujan tersebut serasa menyejukkan bumi yang akhir-akhir ini terasa panas karena telah memasuki musim kemarau yang terik. Hujan lebat yang tidak berlangsung lama itu menyebabkan banjir bandang.

Di sisi lain, kemarau yang belum berlangsung lama juga telah menyebabkan krisis air. Banyak daerah yang telah kekeringan sehingga harus mendatangkan air dari wilayah lain untuk memenuhi kebutuhan dasar sehar-hari.

Mengapa banjir dan kekeringan bisa terjadi dalam waktu yang singkat itu? Begitu memasuki kemarau, cepat mengalami kekeringan, dan begitu hujan mudah banjir. Tentulah banyak faktor yang mempengaruhinya.

Hasil kajian dan penilitian menunjukkan bahwa semua itu yang utama karena budaya penggunaan air oleh manusia.

Hasil pengusutan oleh Pemerintah Kota Bogor setelah terjadi banjir bandang, misalnya, menemukan bahwa banjir bandang di sana utamanya karena pengelolaan lingkungan yang salah yang selama ini telah dilakukan.

Perusakan lingkungan di daerah resapan yang dilakukan oleh manusia telah menyebabkan kemampuan menahan air menjadi terbatas sehingga air hujan yang tidak terserap langsung mengalir ke tempat yang lebih rendah sehingga menyebabkan banjir bandang.

Di tempat lain penyedotan air tanah yang berlebihan menyebabkan stok air tanah berkurang banyak sehingga air laut menginfiltrasi sampai ke wilayah tersebut yang menyebabkan air tanah tidak layak untuk diminum.

Budaya membuang sampah di sungai telah menyebabkan arus air tidak lancar sehingga ketika ad sedikit curah hujan air terhambat dan meluber ke sekitar sungai menjadi banjir.

Demikian juga pembabatan hutan dan penambangan liar yang tidak terkendali, pengubahan tata ruang lahan pertanian menjadi pemukiman ikut andil mempercepat terjadinya krisi air.

Karena manusia memberikan andil terbesar pada kerusakan sistem air, maka perbaikannya harus dimulai dari manusianya. Hal ini bisa dimulai dari membangun kesadaran bersama tentang permasalahan air ini.

Kita harus menyadari bahwa air yang merupakan kebutuhan vital kita bersama menjadi anugerah Allah yang dapat kita wariskan kepada anak cucu kita ke depan.

Kita diciptakan Allah tidak saja menjadi hamba Allah yang harus beribadah kepada-Nya (QS Adz-dzariyat:56), tetapi juga menjadi khalifah atau mandataris-Nya di bumi.

Tugas kholifah ini adalah mengelola dan memanfaatkan apa saja yang ada di bumi secara benar.

Hal ini sesuai dengan firman Allah, yang artinya:

”Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah di bumi. Barangsiapa kafir maka (akibat) kekafirannya akan menimpa dirinya sendiri” (QS Fatir: 35).

”Dan Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurny” (QS Hud: 61).

Sebagai kholifah atau pengelola bumi, kita wajib tunduk kepada Allah dan menerima rahmat yang mengalir dari-Nya.

Kita harus merawat alam di sekeliling kita, termasuk air, sebagai wujud ketundukan kita kepada Allah. Prinsipnya kita harus dapat mengelola dan menggunakan air dengan bijaksana dan juga memeliharanya.

Bagaimana kita mengelola air ini? Perempuan merupakan pihak yang paling banyak dan paling sering berhubungan dengan air dalam kehidupan sehari hari, dibandingkan dengan laki-laki.

Perempuanlah yang biasanya mengatur keperluan makan minum dalam keluarga, mencuci pakaian, peralatan makan minum dan mengolah makanan, menyirami tanaman dan memelihara ternak.

Sebagai muslim kita juga dituntut untuk berwudlu, bersuci, minimal lima kali sehari ketika hendak shalat fardlu. Demikian juga apabila hendak membaca al-Quran atau melaksanakan shalat sunnah lainnya.

Agama kita Islam amat menganjurkan kebersihan dan kesucian baik dhahir maupun batin, bersih pakaian badan dan tempat adalah syarat sah shalat.

Suci dari hadats dan najis, yang semuanya itu menggunakan aiar apabila tidak ada udzur. Betapa amat butuhnya kita terhadap air ini sebagai kebutuhan pokok kita dalam kedidupan sehari hari, juga dalam rangka beribadah kepada Allah.

Meski demikian bukan berarti kita boleh semena mena dalam menggunakan air. Kita tetap harus menggunakannya seperlunya saja, tidak berlebihan. Bukankan Allah melarang kita untuk berbuat israf? Berlebihan dalam menggunakan air sehingga mubadzir, terbuang percuma.

Untuk itu, sebagai orang yang beriman, marilah kita dengan kesadaran melakukan penghematan air. Hal ini harus dilakukan agar air di dalam tanah tetap terjaga dan terpelihara untuk warisan anak cucu kita.

Penyimpanan air di dalam tanUntuk menjaganya harus dilakukan dengan penanaman pohon yang masif agar dapat menyimpan air bila hujan datang.

Penanaman dilakukan di ingkungan kita dan tanah kosong, seperti hutan-hutan yang gundul, tanah yang tak terpakai, pinggir sungai, pinggir jalan.

Penanaman pohon memiliki funsi ganda, di samping penyerapan air juga bisa mengahasilkan buah, kayu, daun, dan produksi oksigen di siang hari.

Dengan kemampuannya menyerap air, pemuangan langsung saat hujan yang menyebabkan banjir dapat terkurangi.

Demikian juga dengan kebiasaan membuang sampah dan benda benda yang tidak terpakai di sungai harus dihentikan.

Jadi pada intinya dengan penegelolaan yang baik, air berfungsi normal sehingga keberadaannya memberikan manfaat yang maksimal dan mengurangi musibah.

Di samping itu tentu air bisa kita wariskan. Ini semua merupkan sebagian tugas kekholifahan yang kita emban sebagai manusia, khalifatullah fil ardli.

Semoga Allah SWT selalu memberikan hidayah-Nya kepada sekalian ummat Islam dan bangsa Indonesia, agar selalu sadar unuk mengelola alam sekitar dengan sebaik baiknya. Wallahu alam bish-shawab.

*Dr Hj Ummul Baroroh MAg, (Sekretaris MUI Jawa Tengah)

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Terkini

Doa Nabi Adam AS, Memohon Ampunan kepada Allah SWT

Sabtu, 4 Desember 2021 | 19:06 WIB

Selektif Memilih Pengurus

Kamis, 2 Desember 2021 | 21:09 WIB

Komunikasi Jadi Pilar Kebahagiaan Keluarga

Kamis, 2 Desember 2021 | 21:01 WIB

Bungah Sajeroning Susah, Susah Sajeroning Bungah

Kamis, 2 Desember 2021 | 20:54 WIB

Ini Keutamaan Membaca Tasbih dan Tahmid

Kamis, 2 Desember 2021 | 07:08 WIB

Ini Manfaat Dahsyat dari Membaca Doa Sebelum Tidur

Senin, 29 November 2021 | 17:04 WIB
X