Kelas Cakap Politik untuk Pelajar SMA, Ada Teori dan Aksi Kreatif

- Minggu, 29 Agustus 2021 | 13:21 WIB
Balairung UGM. (suaramerdeka.com / dok)
Balairung UGM. (suaramerdeka.com / dok)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Sejumlah pelajar SMA/SMK ditangkap saat ikut aksi demonstrasi menolak omnibus law beberapa waktu lalu.

Beberapa pelajar yang ditangkap tersebut menyatakan bahwa mereka tidak paham mengenai demonstrasi tersebut.

Mereka mengikuti aksi hanya ikut-ikutan teman dan dari pesan yang beredar melalui media sosial.

Berangkat dari persoalan itu, tiga mahasiswa UGM membuka kelas cakap politik di sekolah.

Baca Juga: Latih Kemampuan Menulis Mahasiswa, Fakultas Hukum Unissula Gandeng PWI Jateng

Tim yang terdiri atas Elivia Yestiana dan Hanif Jati Pambudi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) serta Puspa Sukmawati Putri dari Fakultas Hukum (FH) dengan dosen pendamping Muhammad Djindan SIP MSc membuka kelas cakap politik dalam rangka memberikan pemahaman pada pelajar.

''Platform edukasi politik tersebut diberi nama Kelas Cakap Politik,'' kata Hanif.

Platform edukasi Kelas Cakap Politik berisi sesi materi dan sesi aksi politik. Sesi materi terdiri atas empat kelas dan dua aksi politik.

Baca Juga: Sekolah Tatap Muka Dimulai Besok, IDAI Berikan Pandangan PTM

Beberapa materi yang disampaikan yakni mengapa anak muda harus paham politik, politik anak muda, politik 5.0, dan how to reach a millennial student as a smart politician.

Adapun aksi politik berisi kegiatan menyuarakan isu terkini dengan cara yang kreatif dan inovatif.

Karya Kreatif

Pelaksanaan program pemberdayaan diikuti 50 siswa dan lima guru dari SMAN 2 Semarang.

Selain itu, siswa dan guru berhasil membuat tujuh aksi politik berupa karya kreatif di instagram sebagai aksi kampanye yang mengangkat berbagai isu politik.

Baca Juga: Jateng Bershalawat, Habib Syech Obati Kerinduan Syechermania

Seperti kebijakan vaksin, kebijakan kesetaraan gender, hingga isu tentang kebebasan berpendapat.

''Program Kelas Cakap Politik berhasil menjadikan siswa dan guru SMAN 2 Semarang paham dan cakap terhadap isu-isu politik. Lebih lanjut, kegiatan tetap akan akan berlangsung dengan adanya Kader Cakap Politik."

"Kader Cakap Politik berisi siswa dan dibimbing oleh guru dan terintegrasi dengan ekstrakurikuler sehingga ke depan Kelas Cakap Politik akan tetap eksis,'' papar Hanif.

Pelajar yang ikut aksi menolak RUU Cipta Kerja karena mendapat pesan berantai dari media sosial dan Whatsapp Group.

Baca Juga: Pelajar di Banjarnegara Dominasi Kompetisi FFP 2021

Namun begitu, imbuhnya, mayoritas para pelajar yang ikut aksi tersebut tidak mengetahui tujuan demonstrasi.

Elivia menambahkan kegiatan kelas melek politik dapat memberikan pemahaman dan pengetahuan baru bagi pelajar soal politik.

Kelak, tidak ada lagi pelajar yang mengikuti aksi hanya berdasarkan ikut-ikutan tanpa memiliki pengetahuan cukup mengenai politik.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Terkini

Ita: Mahasiswa Unika Bantu Turunkan Angka Covid-19

Minggu, 5 Desember 2021 | 21:25 WIB
X