Mahasiswa Ditanamkan Pemahaman Kebangsaan

- Rabu, 23 November 2022 | 16:10 WIB
Rektor UPGRIS Dr Sri Suciati memberi sambutan pada Seminar Nasional Keindonesiaan VII yang diselenggarakan oleh FPIPSKR UPGRIS, Rabu 23 November 2022. (Eko Fataip)
Rektor UPGRIS Dr Sri Suciati memberi sambutan pada Seminar Nasional Keindonesiaan VII yang diselenggarakan oleh FPIPSKR UPGRIS, Rabu 23 November 2022. (Eko Fataip)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Sejumlah guru besar dan pegiat kebudayaan dihadirkan oleh Fakultas Pendidikan IPS dan Keolahragaan (FPIPSKR) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) sebagai pemateri pada Seminar Nasional Keindonesiaan VII, Rabu 23 November 2022.

Mereka yakni Guru Besar Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Dr Fakhruddin MPd, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof Dr Wawan Sundawan Suherman MEd, dan pegiat kebudayaan Halim HD.

Para akademisi tersebut memberikan pencerahan kepada mahasiswa dan dosen terkait "Dialektika Kebudayaan dalam Membangun Pendidikan". Seminar yang dilaksanakan secara luring dan daring ini dimoderatori Dosen UPGRIS, Dr Sri Suneki MSi.

Baca Juga: Mahasiswa Dituntut Jeli Petakan Potensi Desa, UPGRIS Beri Pembekalan Mahasiswa KKN

"Kami memahami pendidikan dan kebudayaan memiliki keterkaitan yag kuat. Sehingga dari keterkaitan itu mampu dibangun yang namanya proses dialektika yang produktif. Kemudian berkembang dan melahirkan hal-hal yang baik," kata Dekan FPIPSKR UPGRIS, Dr Agus Sutono MFil.

Menurut Agus, hal terpenting dari seminar ini, memberikan pemahaman kebangsaan yang kuat kepada mahasiswa. Selain itu, juga membekali mereka kepandaian dan kecerdasan sebagai calon guru.

"Suatu kebudayaan pasti tertanam yang namanya pendidikan. Sedang pendidikan bagian yang tidak lepas dari membangun kebudayaan. Ini bagian dari pelajaran di fakultas bagaimana membentuk mahasiswa yang memiliki pemahaman kebangsaan," ujarnya.

Baca Juga: Teliti Buah Kawista, Mahasiswi UPGRIS Lolos Program Indofood Riset Nugraha

Agus juga mengatakan, seminar ini sekaligus untuk mempertajam kemampuan dan penghayatan kewarganegaraan civitas akademika. Nilai-nilai dasar keindonesiaan perlu dibangun ditengah dinamika yang terjadi.

"Kami sekaligus ingin merespon situasi kebangsaan dewasa ini. Konteks keindonesiaan harus dibangun dan dihadirkan serta diperkaya dalam setiap aspek kehidupan," sebutnya.

Halaman:

Editor: Eko Fataip

Tags

Artikel Terkait

Terkini

STIE AMA Salatiga Dijadikan Kampus Berbasis Wirausaha

Senin, 5 Desember 2022 | 22:41 WIB

Peneliti Unika Kembangkan Startup Perhutanan Sosial

Senin, 5 Desember 2022 | 15:20 WIB
X