Jalur Rempah Digelorakan Kembali sebagai Memori Kolektif

- Senin, 2 Agustus 2021 | 12:32 WIB
 (Prajtna Lidyasari)
(Prajtna Lidyasari)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Restu Gunawan mengemukakan bahwa pelaksanaan lomba penulisan dan foto, serta lomba vlog Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia tersebut dilaksanakan sebagai upaya pemerintah dalam mengobarkan semangat kejayaan rempah-rempah dengan mengenal berbagai kearifan budaya Nusantara, pemanfaatan cagar budaya dan warisan budaya tak benda.

"Jalur Rempah digelorakan kembali sebagai memori kolektif bahwa Nusantara merupakan simpul penting pertukaran antarbudaya yang mempertemukan berbagai ide, ilmu pengetahuan, agama, bahasa, estetika, hingga adat kebiasaan, selama berabad-abad yang dipersatukan melalui kehangatan rempah-rempah," ujar Restu.

Untuk lomba penulisan dan foto tahun ini mengangkat tema Revitalisasi Jalur Rempah yang di dalamnya mengandung nilai-nilai sejarah, seni budaya dan ekspresinya, kuliner, bahasa, kesehatan, kecantikan, ritual, dan hal-hal yang berkaitan dengan budaya bahari Nusantara. Sementara itu, Lomba Vlog mengangkat tema Cagar Budaya dan Warisan Budaya Takbenda Jalur Rempah.

Baca Juga: Imbas Mosi Tak Percaya Ketua DPC PD, TA Fraksi Demokrat Diberhentikan

Selama ribuan tahun, kata Restu, Nusantara telah meraih puncak peradaban penting karena menjadi daerah strategis, khususnya sebagai daerah tujuan perdagangan.

Jalur globalisasi Nusantara ini menyebabkan berkembangnya beragam pengetahuan dan kebudayaan yang tidak hanya menjadi warisan budaya bagi Indonesia, tetapi juga menjadi warisan budaya bagi dunia.

Akibat posisi geo-politik dan geo-ekonomi yang sangat strategis dan terletak di antara dua benua dan samudera, Indonesia merupakan global meeting point.

Baca Juga: PPKM Darurat Sesuai Rekomendasi WHO, SIti: untuk Turunkan Mobilitas, Bukan Menghentikan

"Sayangnya, jejak sejarah rempah sepertinya tenggelam oleh zaman. Kesadaran akan masa lalu belum atau tidak dirasakan penting sehingga masyarakat kita tidak terjaga memori kolektifnya akan kekayaan dan kejayaan Nusantara. Bagaimana mungkin kesadaran cinta tanah air tumbuh apabila kita sebagai bangsa tidak tahu sejarahnya," tuturnya.

Halaman:

Editor: Nugroho Wahyu Utomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X