Tim Pengabdian Masyarakat USM Dampingi Pembatik Difabel Blora Mustika Tingkatkan Kualitas Produk

- Sabtu, 1 Oktober 2022 | 15:16 WIB
Tim Pengabdian Masyarakat USM dampingi pembatik difabel Blora (SM/dok)
Tim Pengabdian Masyarakat USM dampingi pembatik difabel Blora (SM/dok)

Menurut Prof Kesi, permasalahan dalam aspek produksi yaitu hanya mampu membuat produk berupa lembaran-lembaran kain batik.

Kain batik tersebut memiliki desain yang monoton, tidak memerhatikan selera pasar, kurang modern, dan tidak mengikuti perkembangan fesyen.

“Kejenuhan pasar tersebut menyebabkan produk batik DBM tidak mampu bersaing di pasar, dan menurunkan omzet penjualan,” ujar dia.

Selain itu, lanjut dia, dalam proses membatik, terutama untuk batik cap, mitra hanya menggunakan kertas karton yang dibentuk pola dan maksimal hanya bisa dipakai untuk membuat 100 batik karena mudah rusak.

Baca Juga: 3 Manfaat Tanaman Ajaib Kencana Ungu, Salah Satunya Menurunkan Gula Darah

Pembuatan motif dengan kertas bagi kaum difabel sangat susah, terlebih jika motif yang dibuat terlalu kecil.

Untuk mendukung penciptaan keanekaragaman produk dan pengembangan motif, kata dia, mitra memerlukan sebuah alat cap batik (cetak logam).

Alat tersebut akan memudahkan para difabel dalam proses produksi dan mempercepat waktu pembuatan motif batik.

Sementara itu, untuk permasalahan aspek pemasaran batik yaitu jangkauan pemasaran mitra yang masih sangat terbatas.

Prof Kesi mengungkapkan, dalam memasarkan produk, mitra lebih banyak menunggu konsumen yang datang dan melakukan pemasaran dari mulut ke mulut.

Halaman:

Editor: Hendra Setiawan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Rektor USM Hadiri Rapimnas PII 2023 di Balikpapan

Selasa, 24 Januari 2023 | 20:54 WIB
X