Lembaga Pendidikan Tinggi Didorong Presiden Kembangkan Inovasi Saat Pandemi

- Rabu, 28 Juli 2021 | 11:58 WIB
Presiden Jokowi (Nugroho Wahyu Utomo)
Presiden Jokowi (Nugroho Wahyu Utomo)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan bahwa pandemi Covid-19 juga membuka langkah-langkah inovatif yang bisa dilanjutkan nantinya setelah pandemi usai.

Saat membuka Konferensi Forum Rektor Indonesia (FRI) Tahun 2021, Presiden menyebut, pandemi Covid-19 telah berdampak besar pada sejumlah sektor kehidupan, bukan hanya kesehatan dan ekonomi, melainkan juga pada dunia pendidikan

“Kami memang harus berjuang membebaskan rakyat Indonesia dari ancaman Covid-19. Tetapi, masih banyak langkah-langkah inovatif yang muncul karena pandemi ini. Kita harus semakin mengembangkannya. Kita teruskan di pascapandemi nanti,” ujar Presiden Joko Widodo, Selasa (27/07/2021).

Menurut Presiden, pandemi merupakan rangkaian serial disrupsi dan menambah disrupsi yang sebelumnya dipicu revolusi industri 4.0. Perubahan lanskap sosial budaya, ekonomi, politik, mengalami perubahan besar akibat revolusi industri 4.0.

Baca Juga: Pandemi Picu Lonjakan Kasus Perkawinan Anak Secara Paksa

Teknologi cloud computing, internet of things, artificial intelligence, big-data analytics, advanced robotics, hingga virtual reality telah membawa perubahan di semua bidang.

“Harus diakui bahwa teknologi telah menjadi master disrupsi. Perdagangan telah bergeser menjadi e-commerce. Dunia perbankan telah terdisrupsi oleh hadirnya fintech dan berbagai macam e-payment.”

“Dunia kedokteran dan farmasi semakin terdisrupsi oleh healthtech. Profesional hukum juga mulai diguncang oleh recthtech. Dan dunia pendidikan telah terdisrupsi besar-besaran oleh edutech,” jelasnya.

Terkait hal tersebut, Presiden berpandangan bahwa lembaga pendidikan tinggi mau tidak mau harus memperkuat posisinya sebagai edutech institutions.

Baca Juga: Gubernur 5 Provinsi Penyumbang Kasus Tertinggi Jangan Lengah, Wiku Minta Cermati Status Daerah

Menurutnya, teknologi paling dasar adalah pembelajaran memanfaatkan teknologi digital. Lebih jauh, pembelajaran digital bukan hanya digunakan untuk memfasilitasi pengajaran oleh dosen internal kampus kepada mahasiswa.

Tapi, juga memfasilitasi mahasiswa untuk belajar kepada siapa pun, di mana pun, dan tentang apa pun.  Pembelajaran dari para praktisi, termasuk pelaku industri, sangat penting untuk difasilitasi.

“Kurikulum harus memberikan bobot SKS yang jauh lebih besar bagi mahasiswa untuk belajar dari praktisi dan industri. Eksposur mahasiswa dan dosen kepada industri teknologi masa depan harus ditingkatkan."

"Pengajar dan mentor dari pelaku industri, magang mahasiswa ke dunia industri, dan bahkan industri sebagai tenant di dalam kampus harus ditambah, termasuk organisasi praktisi lainnya juga harus diajak berkolaborasi,” paparnya.

Baca Juga: 700 Pekerja Seni Pemalang Ikuti Vaksinasi di Gerai TNI-Polri

Di samping itu, Kepala Negara juga memandang bahwa lembaga pendidikan tinggi harus bekerja untuk kemanusiaan dan kemajuan bangsa, memecahkan masalah-masalah sosial dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan inovasi secara berkelanjutan.

Perspektif kewirausahaan juga sangat penting agar perguruan tinggi bisa melakukan upaya secara berkelanjutan.

“Menurut saya, tugas itu akan jauh lebih ringan jika kita bersedia melakukannya dengan cara-cara baru. Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar adalah salah satu instrumen penting untuk itu. Mahasiswa bisa belajar kepada siapa saja, di mana saja yang dirasa penting untuk mempersiapkan masa depan mereka dan masa depan bangsa. Mahasiswa harus di-update dengan perkembangan terkini dan perkembangan ke depan,” tandasnya.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pemilihan Rektor USM: Lima Calon Sampaikan Visi Misi

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 10:24 WIB

Menuju 40 Tahun, UWM Miliki Kampus Baru

Kamis, 14 Oktober 2021 | 18:00 WIB
X