Tak Hanya Adaptasi Teknologi, Guru Diminta Hadirkan Imajinasi Siswa Tanpa Batas

- Minggu, 18 Juli 2021 | 20:35 WIB
Azizah Ma'ruf Amin (kemenag/dok)
Azizah Ma'ruf Amin (kemenag/dok)

LUMAJANG, suaramerdeka.com - Pandemi di Indonesia yang berlangsung hampir dua tahun, berdampak pada kualitas pembelajaran seiring terbatasnya ruang gerak siswa. Karenanya, guru dituntut memiliki metode khusus dalam mengajar, salah satunya dengan mengembangkan pendekatan bercerita.

Hal ini disampaikan Puteri Wakil Presiden RI, Siti Nur Azizah Ma’ruf Amin dalam acara Bimtek Cerita Islami (Ceris) yang digelar Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lumajang Provinsi Jawa Timur, baru-baru ini.

Menurut Azizah, saat ini guru bukan hanya dituntut pandai beradaptasi dengan teknologi. Lebih dari itu, guru juga harus mumpuni dalam inovasi metode mengajar agar sesuai dengan kondisi belajar siswa pada masa pandemi.

Guru harus bisa bercerita secara menarik, minimal secara lisan, akan lebih baik lagi secara tulisan. Karya cerita dalam bentuk tulisan ini akan menjadi penanda kemajuan zaman.

Baca Juga: BIN Lanjutkan Vaksinasi Door To Door di Semarang, Targetkan 1.000 Orang di Tiga Lokasi

“Dengan tantangan keterbatasan ruang gerak kita saat ini, sesungguhnya merupakan kesempatan terbaik bagi para penulis cerita untuk unjuk diri membangun ruang imajinasi. Disaat para siswa tersandera belajar di rumah dan tidak boleh kemana-mana, maka waktunya kita menjemput mimpinya dengan cerita-cerita inspiratif menuju ruang imajinasi yang luasnya tiada tara," kata Azizah.

"Pun dengan adanya genre cerita Islami (ceris), kita berkesempatan membantu mereka mempersiapkan masa depannya secara optimis dan gemilang," sambungnya.

Azizah menekankan pentingnya merawat imajinasi anak dengan mengutip kata-kata Albert Einstein yang masyhur bahwa: _“Imagination more important than knowledge”._ Imajinasi itu lebih penting dari pengetahuan. Imajinasi itu tidak dibatasi ruang fisik.

Dia lebih luas bahkan mungkin tak terbatas. Bila pengetahuan hanya melangkah, maka imajinasi mengajak kita melompat jauh ke depan. Karenanya merusak imajinasi anak dapat disamakan dengan upaya merusak masa depan bangsa.

“Kita mesti menitipkan imajinasi kolektif bangsa ini kepada anak-anak Indonesia melalui cerita-cerita yang baik dan berkualitas. Titipkanlah rasa cinta, keberagaman, kebersamaan, kemanusian, dan semangat menjaga lingkungan kepada anak-anak Indonesia dalam setiap kata yang ditulis. Melalui Cerita Islami pun kita bisa menyisipkan pesan moral penting keberagamaan yang lebih sejuk dan rahmatan lil ‘alamin, bukan membakar semangat kebencian dan kekerasan yang bisa merusak persatuan”, lanjut founder SNA Initiative ini kepada ratusan peserta Bimtek Cerita Islami di Lumajang.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Sumber: Kemenag

Tags

Terkini

Teknologi Tak Bisa Gantikan Peran Pendidik

Kamis, 23 September 2021 | 22:12 WIB

Siswa Tidak Sehat, Diminta Tidak Usah Ikut PTM

Kamis, 23 September 2021 | 18:44 WIB
X