Meningkatkan Literasi Menuju Pemberdayaan Ekonomi Mandiri

- Jumat, 9 Juli 2021 | 08:24 WIB
KUM Desa Kalicupak Lor membungkus telur dengan adonan yang terbuat dari campuran batu bata yang sudah dihancurkan, abu, dan garam. (suaramerdeka.com / dok)
KUM Desa Kalicupak Lor membungkus telur dengan adonan yang terbuat dari campuran batu bata yang sudah dihancurkan, abu, dan garam. (suaramerdeka.com / dok)

Seiring waktu, usaha kelompok semakin berkembang. Rata-rata produksi telur asin meningkat menjadi 300 hingga 400 butir. Telur asin tersebut dijual ke lingkungan sekitar serta memenuhi pesanan pelanggan.

Harga per butir Rp 3000. Mereka mahir dalam menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, hingga keuntungan. Kemahiran ini mereka peroleh saat mengikuti pembelajaran KUM.

"Biasanya keuntungan dibagi setelah menghitung biaya pokok. Pernah juga pas Lebaran pembagian keuntungan saya mendapat Rp 200 ribu," kata Samini. 

Sedikit banyak keuntungan yang diperoleh tak menjadi fokus utama. Namun, keuntungan besar justru membentuk karakter kewirausahaan mandiri.

Mereka memiliki jiwa wirausaha. Bahkan, sejak dua tahun lalu Samini mencoba usaha sendiri dengan membuka warung bahan kebutuhan pokok di rumah.

"Saya sekarang punya usaha sendiri di rumah. Tapi usaha kelompok tetap jalan," katanya.

Selain Samini, ada pula anggota lain yang tidak lagi bergabung dalam kelompok. Tetapi memilih mengembangkan usaha sendiri dengan memproduksi telur asin di rumah. Setiap produksi bisa mencapai 100 butir.

Meskipun demikian, kelompok usaha telur asin tetap berjalan. Bahkan, merekrut anggota baru untuk bergabung mengembangkan usahanya.

Saat ini produksinya sekitar 400 hingga 500 butir. Penjualannya pun tidak hanya lingkungan sekitar, tapi menjual secara online.

Keberadaan kelompok telah memberi dampak positif terhadap pemberdayaan warga setempat.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X