Meningkatkan Literasi Menuju Pemberdayaan Ekonomi Mandiri

- Jumat, 9 Juli 2021 | 08:24 WIB
KUM Desa Kalicupak Lor membungkus telur dengan adonan yang terbuat dari campuran batu bata yang sudah dihancurkan, abu, dan garam. (suaramerdeka.com / dok)
KUM Desa Kalicupak Lor membungkus telur dengan adonan yang terbuat dari campuran batu bata yang sudah dihancurkan, abu, dan garam. (suaramerdeka.com / dok)

Sejak dewasa hingga berkeluarga ia mengikuti jejak orang tuanya bekerja menjadi buruh tani.

Namun, keinginan bersekolah untuk menambah wawasan dan kecakapan hidup kembali terbangun setelah masuknya program keaksaraan fungsional ke desa-desa.

Ia bersama dengan puluhan warga lain yang putus sekolah dan buta aksara tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menempuh pendidikan yang lebih baik. Mulai dari melancarkan membaca, menulis dan berhitung.

Ia mengikuti proses pembelajaran dengan tekun hingga memperoleh Surat Keterangan Melek Aksara (Sukma) pada 2014.

Baca Juga: Angka Kesembuhan Covid -19 di Blora Tinggi, Warga Jangan Kendurkan Prokes

Kemudian mengikuti lagi program keaksaraan lanjutan yaitu Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) tahun 2015 dan Pendidikan Kecakapan Hidup Perempuan (PKHP) tahun 2018.

"Saya mendapat banyak pengalaman. Tidak hanya membaca, menulis dan berhitung. Tapi kami mendapat pelajaran wirausaha mandiri. Dari sini saya sadar bahwa manfaat pendidikan ternyata penting," katanya.

Ia bersama dengan warga belajar lain membentuk kelompok untuk menjalankan usaha produksi telur asin.  Di Desa Kalicupak Lor terdapat tiga kelompok usaha yang memproduksi telur asin.

Samini (63), warga lainnya mengatakan modal usaha memproduksi telur asin dari bantuan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kalibagor.

Modal awal kelompok Rp 400 ribu. Uang itu dibelanjakan membeli telur bebek dan keperluan biaya produksi. Awal produksi hanya sekitar 40 butir telur asin.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ita: Mahasiswa Unika Bantu Turunkan Angka Covid-19

Minggu, 5 Desember 2021 | 21:25 WIB
X