Meningkatkan Literasi Menuju Pemberdayaan Ekonomi Mandiri

- Jumat, 9 Juli 2021 | 08:24 WIB
KUM Desa Kalicupak Lor membungkus telur dengan adonan yang terbuat dari campuran batu bata yang sudah dihancurkan, abu, dan garam. (suaramerdeka.com / dok)
KUM Desa Kalicupak Lor membungkus telur dengan adonan yang terbuat dari campuran batu bata yang sudah dihancurkan, abu, dan garam. (suaramerdeka.com / dok)

"BUAT apa sekolah, mau jadi apa?". Begitulah kata orang tua dulu kepada anak-anaknya. Orang tua zaman dulu menganggap pendidikan tidak begitu penting.

Tak heran banyak warga masyarakat yang saat itu tidak mengenyam pendidikan. Tidak sedikit pula anak-anak usia sekolah dasar putus sekolah.

Pengalaman itu dialami oleh Samiyah (57), warga Desa Kalicupak Lor, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas.

Ia hanya menikmati masa sekolah sampai kelas IV sekolah dasar. Ia terpaksa putus sekolah karena lebih memilih menuruti perintah orang tua.

Baca Juga: Pemerintah Bayar Rp 17,1 Triliun untuk Klaim Rumah Sakit, Paling Tinggi di Bulan Januari

Usia masa sekolah yang seharusnya diisi untuk belajar, digunakan untuk membantu orang tua menjadi buruh tani.

Selain itu, ia juga diminta menjaga adik-adiknya di rumah karena orang tuanya bekerja di sawah.

"Saya disuruh momong adik karena orang tua kerja di sawah, sehingga tidak bisa berangkat sekolah. Apalagi orang tua bilang sekolah tidak penting," tuturnya saat ditemui di rumahnya, Kamis (8/7/2021).

Wawasan terhadap dunia pendidikan pun rendah. Bahkan, memengaruhi kualitas kehidupannya.

Baca Juga: Ada Kecelakaan Kerja, Izin Operasional Dermaga Pelabuhan Dalam Dipertanyakan

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

PBI UPGRIS Sukses Gelar 3 Program Kampus Merdeka

Selasa, 26 Oktober 2021 | 20:22 WIB
X