Founder GSM: Perlu Perubahan Paradigma Kurikulum ke Penalaran

- Sabtu, 19 Juni 2021 | 18:46 WIB
5 kompas perubahan GSM (suaramerdeka.com/dok)
5 kompas perubahan GSM (suaramerdeka.com/dok)

 

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) kembali menyuarakan kompas perubahan kepada para pendidik. Kali ini menyasar 68 guru SMK di Sumatera dan Kalimantan.

Kegiatan diklat Sekolah Menyenangkan ini diinisiasi oleh salah satu widyaiswara Balai Besar di Medan, Pariaman Saragi yang tahun lalu sudah mengikuti pelatihan di Yogyakarta.

"Diklat hari ini merupakan tindak lanjut dari antusiasme 34 SMK yang telah mengirimkan karya tulis implementasi sekolah menyenangkan," kata Saragi lewat webinar, Sabtu (19/6).

Baca Juga: Acara Nobar Olimpiade Tokyo Dibatalkan, 6 Lokasi Bakal Digunakan untuk Vaksinasi Covid-19

Inisiatif akar rumput ini diapresiasi oleh tim GSM dengan turut hadir menyapa peserta meskipun melalui daring. Founder GSM, Muhammad Nur Rizal, membuka diskusi dengan memaparkan temuan OECD terkait kemampuan literasi pada tahun 2016.

Survei menunjukkan, kurang dari 1 persen orang dewasa di Jakarta berumur 16-65 tahun memiliki kompetensi membaca dan berhitung tingkat tinggi dibandingkan 10,6 persen rerata negara OECD lainnya.

Hanya 5,4 persen orang dewasa Jakarta dapat memahami dan merespon teks panjang dibanding 35,4 persen rerata negara OECD lainnya.

Baca Juga: Kaum Hawa Akrabi WFH Picu Bisnis Tanaman Anggrek Menggeliat di Masa Pandemi

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X