UGM Pasang 10 EWS Gempa di Pesisir Pulau Jawa

- Jumat, 11 Juni 2021 | 10:56 WIB
Oeneliti gempa dari UGM Prof Ir Sunarno MEng PhD/Foto Istimewa
Oeneliti gempa dari UGM Prof Ir Sunarno MEng PhD/Foto Istimewa

Lima Menit

Setiap stasiun EWS mengukur tiap lima menit perubahan permukaan air sumur dan paparan gas radon alam.

Kepekaan alat tersebut hanya dapat memonitor kejadian gempa di atas 4,5 SR antara Aceh hingga NTT untuk lempengan Indo-Australia. Menurutnya, untuk dapat memantau di daerah dengan lempengan lain, harus dipasang stasiun EWS di lokasi yang dipantau.

Baca Juga: PTM Mutlak Ekstrahati-hati, Usia 6-18 Tahun Sumbang 9,6 Persen Kasus Covid-19

''EWS tersusun dari sejumlah komponen seperti detektor perubahan level air tanah dan gas radon, pengkondisi sinyal, kontroler, penyimpan data, sumber daya listrik. Alat ini juga memanfaatkan teknologi internet of thing (IoT) di dalamnya,'' imbuh Sunarno.

Mekanisme kerja ketika memprediksi gempa berdasarkan perbedaan konsentrasi gas radon dan level air tanah yang merupakan anomali alam sebelum terjadinya gempa bumi Apabila akan terjadi gempa di lempengan, muncul fenomena paparan gas radon alam dari tanah yang meningkat, demikian juga permukaan air tanah bakal naik-turun.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ita: Mahasiswa Unika Bantu Turunkan Angka Covid-19

Minggu, 5 Desember 2021 | 21:25 WIB
X