Divonis Tunanetra Low Vision, Risa Mampu Jadi Lulusan Terbaik FITK UIN Walisongo

- Selasa, 16 November 2021 | 15:25 WIB
Lulustan terbaik FITK UIN Walisongo, Risa Harisatulmillah. (suaramerdeka.com/dok)
Lulustan terbaik FITK UIN Walisongo, Risa Harisatulmillah. (suaramerdeka.com/dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Wisuda periode November 2021 UIN Walisongo Semarang, kisah inspiratif datang dari mahasiswa asal Desa Mertapada Kulon, Kabupaten Cirebon bernama Risa Harisatulmillah.

Risa merupakan anak pertama dari pasangan Munib dan Sulhah, yang mendapatkan gelar wisudawan terbaik Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang, dengan IPK 3,86, Selasa, 16 November 2021.

Menempuh pendidikan di Jurusan PGMI selama delapan semester, santri Pondok Pesantren Fadlu Fadlan ini menjalani studinya dengan penuh perjuangan. Dirinya sempat divonis mengidap tunanetra low vision oleh dokter mata.
 
"Saya sempat ingin pindah ke Cirebon pas semester satu, tidak enak merepotkan banyak orang karena dokter memvonis saya mengidap low vision” ujar Risa, sambil haru menceritakan kisahnya dulu.

Baca Juga: Memasuki Musim Hujan, Polres Pemalang Fokus Tekan Kecelakaan

Low vision merupakan jenis tunanetra yang membuat seseorang memiliki gangguan penglihatan, akan tetapi masih memiliki sisa penglihatan dan dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan alat bantu.

Kelainan itu membuat Risa menderita saat melihat benda jauh, mengerjakan tugas, bahkan saat ingin membaca materi perkuliahan untuk keperluan ulangan.

“Kadang tidak nyaman dengan ini, membuat saya tidak bisa lama-lama membaca materi perkuliahan, bahkan sampai minta tolong teman untuk membacakan materi, saya yang mendengarkan sambi menyimak” tutur Risa.

Risa mengaku harus berjuang penuh dalam mengikuti perkuliahan.

Baca Juga: Presidensi G20 Bawa Indonesia Ikut Menentukan Arah Perekonomian Dunia

Dia harus melawan rasa sakit yang diderita dan menyembuyikannya di hadapan teman teman lain, meski kadang kelainan yang dimilki berujung pada cemohan, bahkan membuat orang lain mengejeknya secara tidak langsung.

“Ia, kadang terasa sakit waktu di ejek, ndak enak sebenarnya” ungkapnya.

Meski demikian, Risa tak pernah menyerah. Dia terus gigih untuk belajar. Terlebih lingkungan pesantren yang ia tinggali bisa memberikan kebahagiaan sehingga melipur kesedihan yang dia alami.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ika FISIP Undip Targetkan 40 Beasiswa

Selasa, 11 Januari 2022 | 20:40 WIB
X