Novel Berdasar Penelitian Terorisme Diseminarkan di Kampus Undaris

- Senin, 18 Oktober 2021 | 18:40 WIB
PEMBICARA : Para pembicara seminar dan bedah novel berjudul ''Someone Has To Die'' (Harus Ada yang Mati) di Kampus Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman Guppi (Undaris) Ungaran, Kabupaten Semarang, Senin 18 Oktober 2021 (suaramerdeka.com/Surya Yuli)
PEMBICARA : Para pembicara seminar dan bedah novel berjudul ''Someone Has To Die'' (Harus Ada yang Mati) di Kampus Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman Guppi (Undaris) Ungaran, Kabupaten Semarang, Senin 18 Oktober 2021 (suaramerdeka.com/Surya Yuli)

UNGARAN, suaramerdeka.com - Jim Baton, seorang warga Amerika Serikat yang sudah sekitar 20 tahun tinggal di Indonesia, menerbitkan sebuah novel berjudul ''Someone Has To Die'' (Harus Ada yang Mati).

Novel yang terkait dengan aksi terorisme berdasarkan hasil penelitian Jim Boton itu diseminarkan dan dibedah secara daring serta luring di Kampus Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman Guppi (Undaris) Ungaran, Kabupaten Semarang, Senin (18/10).

Seminar itu menghadirkan Jim Baton (pengarang novel), Ketua Yayasan Hidayah Bangsa Prof Dr Mahmud Farid Ibrahim MSi, dan Dosen Universitas Muhammadiyah Malang Nafik SPdI MAHum.

Baca Juga: MPL ID Season 8: Tim-Tim Lolos Playoff Mulai Berdatangan di Bali

''Pengalaman 20 tahun saya tinggal di Indonesia banyak sekali kasus-kasus kekerasan berkaitan terorisme. Dengan adanya novel ini diharapkan semua orang sadar bahwa aksi terorisme itu tidak benar. Hidup saling mengasihi dan cinta damai, adalah sangat berharga,'' kata Jim Baton.

Prof Dr Mahmud Farid Ibrahim mengungkapkan, kasus-kasus terorisme yang mengantarkan orang berbuat nekat melakukan aksi pengebomam dilandaskan berbagai faktor.

Berdasarkan pengalaman dirinya bersama sejumlah tokoh mewancarai para ''pengantin'' yang memicu terorisme dalam bentuk peledakan bom di sejumlah tempat, diperoleh informasi para ''pengantin'' tersebut telah terdoktrinasi ajaran tertentu.

Ajaran kekerasan dan terorisme itu sangat tidak dibenarkan. Kemudian pilihan terhadap wanita sebagai pengantin dalam kasus terorisme peledakan bom, karena wanita mudah terbujuk dan diatur.

Baca Juga: Jadi Kapten Timnas Badminton di Thomas Cup 2020, Ini Perjalanan Karir Hendra Setiawan

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X