Tenaga Ahli Nuklir Profesi Langka, Sulit dan Berat Peroleh Izin Bekerja

- Jumat, 15 Oktober 2021 | 08:12 WIB
Pimpinan STTN Yogyakarta menyampaikan proses pelatihan untuk memperoleh izin terkait bidang radiasi nuklir sangat berat. (suaramerdeka.com / dok)
Pimpinan STTN Yogyakarta menyampaikan proses pelatihan untuk memperoleh izin terkait bidang radiasi nuklir sangat berat. (suaramerdeka.com / dok)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Tenaga ahli nuklir merupakan profesi langka di Indonesia karena harus mengikuti proses panjang supaya bisa memperoleh izin bekerja.

Tak main-main, tenaga ahli nuklir mereka bekerja di bidang yang sangat sensitif.

Pelaksana tugas Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) Yogyakarta, Sukarman mengungkapkan hal itu di sela-sela wisuda di Babarsari.

Ia mengatakan lulusannya selain sebagai sarjana terapan teknik, juga memperoleh Surat Izin Bekerja Petugas Proteksi Radiasi (SIB PPR) industri tingkat 1 dan SIB PPR Medis.

Baca Juga: Pinjol Ilegal Marak, DPR Edukasi Door to Door soal Literasi Keuangan ke Masyarakat

"Proses mendapatkan SIB PPR melalui proses yang panjang, selain  harus berbadan sehat yang dinyatakan oleh dokter, ditunjang dengan pemeriksaan laboratorium lengkap, juga harus lulus pelatihan petugas proteksi radiasi di STTN yang diakui oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten)," tandas Sukarman.

Materi ujian SIB berat dan pedoman kelulusannya ketat, di mana pelaksanaan ujian dan pelatihan sangat panjang serta melelahkan.

Ini menunjukkan mereka yang telah mendapatkan SIB benar-benar memiliki kualitas sebagai petugas yang mampu melaksanakan pekerjaan yang berhubungan dengan proteksi radiasi.

Ia menambahkan, saat ini STTN telah terakreditasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN - PT) dengan peringkat B untuk akreditasi institusi, dan akreditasi B untuk semua program studi.

Baca Juga: Danpuster TNI AD: Media Massa Miliki Peran Strategis Menjaga Ketahanan Negara

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X