Perekrutan Guru Belum Sebanding dengan Kebutuhan, Jumlah yang Pensiun Lebih Banyak

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 10:24 WIB
Seleksi PPPK Guru. (Instagram/@infocpnsterkini)
Seleksi PPPK Guru. (Instagram/@infocpnsterkini)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Perekrutan untuk guru sejauh ini dinilai belum menjawab kebutuhan.

Formasi atau seleksi untuk Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) guru secara angka dipandang masih sangat kecil dan jauh dari yang dibutuhkan.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jateng, Dr Muhdi menegaskan, krisis guru tidak ada kaitannya dengan jumlah lulusan.

Persoalan yang mendasar adalah jumlah guru yang pensiun lebih banyak dibanding jumlah perekrutan.

Baca Juga: Capaian Vaksinasi di Demak Meningkat Signifikan, Sudah di Angka 64 Persen

"Kekurangan guru sebetulnya tidak ada hubungannya dengan lulusan, karena memang rekrutmennya yang tidak ada, di sinilah problemnya. Tersedia formasi untuk PPPK, tetapi sangat kecil dan belum sebanding dengan kebutuhan," kata Muhdi usai menerima tim Kajian Revitalisasi Tata Kelola Pengembangan Guru Indonesia di Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Rabu, 13 Oktober 2021.

PGRI mencatat, pada 2017 lalu saja, kekurangan guru mencapai 998 ribu dan ditambah 250 ribu guru yang pensiun sampai 2021.

Secara angka, kekurangan 1 juta guru di Indonesia itu diamini Mendikbudristek. Jumlah tersebut diperkirakan akan makin bertambah.

"Diperlukan komunikasi yang baik antara pusat dengan daerah. Harus ada formasi yang dibuka, kalau tidak, akan kosong seterusnya. Pemerintah jangan hanya menunggu dan jangan terjebak menghitung guru di sekolah negeri, padahal di sekolah swasta lebih besar," ujarnya.

Baca Juga: Pendekatan One Health Perlu untuk Melawan Penyakit Akibat Gaya Hidup

Pada sisi lain, Muhdi yang juga Rektor UPGRIS melihat, Kota Semarang dekat dengan penyedia sumber daya guru.

Jadi, lebih memungkinkan atau berpeluang memperoleh guru-guru terbaik.

Sementara itu, salah satu tim Kajian Revitalisasi Tata Kelola Pengembangan Guru Indonesia, Aditya Fathurrahman mengungkapkan, nilai rata-rata Uji Kompetensi Guru (UKG) di Kota Semarang pada 2015-2018 cukup tinggi.

Capaian itu tak lepas dari kesejahteraan yang terpenuhi dan beban kerja yang tidak melebihi dari yang ditentukan.

Selain itu, peran Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) di kota ini menurutnya cukup aktif. Adapun terkait krisis guru akan menjadi catatan pihaknya.

"Kami melakukan kajian terkait revitalisasi tata kelola guru, fokus dari hulu sampai hilir. Bagaimana merevitalisasi dari fungsi LPTK sampai ke pengembangan kompetensi guru. Kami hanya menampung aspirasi, lalu kami olah untuk selanjutnya kami ambil suatu kajian," sebutnya.***

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ita: Mahasiswa Unika Bantu Turunkan Angka Covid-19

Minggu, 5 Desember 2021 | 21:25 WIB
X