PJJ Terlalu Lama, Dr Bunyamin: Akan Banyak Siswa Putus Sekolah

- Minggu, 10 Oktober 2021 | 22:33 WIB
Webinar "Pengembangan Strategi Pendidikan Masa Pendemi dan Pasca Pandemi" yang diselenggarakan PW Wanita Islam Jawa Tengah, Minggu (10/10/2021). (Langgeng Widodo/sm.dok)
Webinar "Pengembangan Strategi Pendidikan Masa Pendemi dan Pasca Pandemi" yang diselenggarakan PW Wanita Islam Jawa Tengah, Minggu (10/10/2021). (Langgeng Widodo/sm.dok)

 

SOLO, suaramerdeka.com - Kelangsungan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar mengajar yang tidak dilakukan di sekolah berpotensi menimbulkan dampak negatif berkepanjangan.

"Dampak itu antara lain, ancaman putus sekolah, penurunan capaian belajar, dekerasan pada anak dan risiko eksterna," kata Dr Bunyamin, Ketua YPLP PT PGRI Semarang, Minggu (10/10/2021).

Hal itu dikatakan ketika menjadi pembicara dalam webinar yang diselenggarakan Pengurus Wilayah (PW) Wanita Islam Jawa Tengah, Minggu (10/10/2021).

Pembicara lainnya, H Syaifullah dari Kanwil Kemenag Jateng, serta Latifa K Tajibi, Ketua Dewan Pengawas Yayasan Pendidikan Bakti Wanita Islam.

Baca Juga: Unik Pemberkatan Satwa Digelar Secara Drive Thru

Lebih lanjut Bunyamin mengatakan, risiko putus sekolah dikarenakan anak “terpaksa” bekerja untuk membantu keuangan keluarga di tengah krisis pandemi Covid-19. Selain itu, banyak orang tua yang tidak bisa melihat peranan sekolah dalam proses belajar mengajar apabila tidak dilakukan secara tatap muka.

Perbedaan akses dan kualitas selama pembelajaran jarak jauh, tandas dia, dapat mengakibatkan kesenjangan capaian belajar, terutama untuk anak dari sosio-ekonomi berbeda. Tanpa sekolah, lanjut dia, banyak anak terjebak dalam kekerasan rumah tanpa terdeteksi oleh guru.

"Ketika anak tidak lagi datang ke sekolah, terdapat peningkatan resiko untuk pernikahan dini, eksploitasi anak terutama perempuan, dan kehamilan remaja," katanya memberi contoh.

Dikatakan, kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat merupakan prioritas utama dalam menetapkan kebijakan pendidikan di masa pandemi covid-19.

Tumbuh kembang peserta didik dan kondisi psikososial juga menjadi pertimbangan dalam pemenuhan layanan pendidikan selama masa pandemi Covid-19.

"Untuk mengantisipasi konsekuensi negatif dan isu pembelajaran jarak jauh, pemerintah telah mengimplementasikan dua kebijakan baru. Yakni, perluasan pembelajaran tatap muka untuk zona kuning dan kurikulum darurat dalam kondisi khusus," tandasnya.

Halaman:
1
2

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

PTM SMP 100 Persen, Disdik Imbau Tetap Prokes Ketat

Senin, 10 Januari 2022 | 19:09 WIB

SDN Cebongan 01 Juara Lomba Administrasi Gudep Pramuka

Senin, 27 Desember 2021 | 07:15 WIB
X