Akademisi Dorong Pemanfaatan Limbah untuk Kompos

- Minggu, 3 Oktober 2021 | 20:20 WIB
Tim pengabdian dari Gugus Konservasi dan Pengembangan Karakter Fakultas Teknik UNNES didampingi tokoh masyarakat, memberikan pelatihan pembuatan kompos kepada warga di RT 4 RW 4, Pakintelan, Gunungpati, Kota Semarang, Minggu (3/10). (SM/Eko Fataip)
Tim pengabdian dari Gugus Konservasi dan Pengembangan Karakter Fakultas Teknik UNNES didampingi tokoh masyarakat, memberikan pelatihan pembuatan kompos kepada warga di RT 4 RW 4, Pakintelan, Gunungpati, Kota Semarang, Minggu (3/10). (SM/Eko Fataip)

SEMARANG, suaramedeka.com - Sejumlah akademisi Universitas Negeri Semarang (UNNES) mendorong masyarakat untuk memanfaatkan dan mengolah limbah menjadi kompos.

Dosen Fakultas Teknik UNNES, Atika MPd menilai, proses pembuatan kompos sebetulnya tidaklah sulit. Masyarakat bisa memanfaatkan limbah yang mudah ditemui di sekitar, seperti limbah tanaman, limbah organik rumah tangga, hingga kotoran hewan.

"Secara teknis, pembuatan kompos bisa dipercepat dengan menggunakan aktivator atau biang kompos. Fungsi dan kerja dari biang ini untuk mempercepat pelapukan bahan organik menjadi kompos," kata Atika usai melaksanakan pengabdian masyarakat di RT 4 RW 4, Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Minggu (3/10).

Baca Juga: PDI Perjuangan Puji Presiden Jokowi Visioner, Membumi dan Angkat Harkat Martabat Indonesia Melalui Olah Raga

Selain Atika selaku ketua tim pengabdi, tim pengabdian dari Gugus Konservasi dan Pengembangan Karakter Fakultas Teknik UNNES ini beranggotakan Wahyuningsih MPd, Sudiyono MPd serta dihadiri pula Wakil Dekan 3 Fakultas Teknik UNNES, Dr Wirawan Sumbodo.

Mereka dibantu sejumlah mahasiswa, yakni Rifqi Dwi Priyantama, Intan Syara Zain dan Aliviya Kamila Umma Masyithoh.

Sementara itu, Wahyuningsih menjelaskan, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam proses pembuatan kompos. Diantaranya bahan kompos harus dicacah, aktivator perlu tercampur merata ke seluruh bahan kompos, dan bahan kompos harus cukup mengandung air.

"Bahan yang terlalu kering lebih sulit dikomposkan, namun jika terlalu basah juga akan menghambat proses pengomposan. Untuk bak penampungan perlu ditutup agar melindungi bahan dari air hujan, cahaya matahari, penguapan dan perubahan suhu," ungkapnya.

Baca Juga: Bagi-bagi Kopi Gratis di Magelang Coffee Fest 2021

Pihaknya mencontohkan cara membuat kompos padat skala rumah tangga, yang memanfaatkan limbah tanaman/daun kering dengan media bak/tong penampungan.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Ika FISIP Undip Targetkan 40 Beasiswa

Selasa, 11 Januari 2022 | 20:40 WIB
X