Kejar Peluang Global, SDM Keteknikan Indonesia Butuh Ditingkatkan

- Kamis, 30 September 2021 | 18:35 WIB
Dekan FT Unimus, Bagus Irawan, Ketua PII Jateng Herry Ludiro, Guru Besar Polines Totok Prasetyo dan Wakil Dekan FT, Luqman Assafat berbicara dalam kuliah umum di Kampus Kasipah Jangli Kamis 30 September 2021. (Suaramerdeka.com/ Hari Santoso)
Dekan FT Unimus, Bagus Irawan, Ketua PII Jateng Herry Ludiro, Guru Besar Polines Totok Prasetyo dan Wakil Dekan FT, Luqman Assafat berbicara dalam kuliah umum di Kampus Kasipah Jangli Kamis 30 September 2021. (Suaramerdeka.com/ Hari Santoso)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Sumber daya manusia (SDM) Indonesia di bidang keteknikan butuh ditingkatkan ditingkatkan.

Sebab, kondisinya masih rendah dibandingkan pembangunan sumber daya manusia di negara tetangga.

"Hal ini bisa dibaca dari catatan tentang pembangunan sumber daya manusia keteknikan yang masih rendah dibandingkan negara seperti Malaysia, Filipina, maupun Singapura," tutur Guru Besar Politeknik Negeri Semarang (Polines) Prof Dr Totok Prasetyo BEng (Hons) IPU saat berbicara dihadapan mahasiswa Fakultas Teknik Unimus, di Kampus Kasipah Jangli.

Baca Juga: Lokasi Paralayang PON XX Papua dapat Pujian Ketua KONI

Dia hadir dalam forum naskah kerja sama dan kuliah umum untuk peran strategi pembangunan Indonesia dalam program pembangunan nasional.

Acara ini mengundang Dekan Fakultas Teknik Unimus, Dr Ir RM Bagus Irawan WW IPM, dan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jateng Dr Ir T Herry Ludiro W, Wakil Dekan FT, Luqman Assafat, dan para dosen.

Totok yang juga pengurus PII Jateng sekaligus memperkirakan ketika mencetak biru MEA berakhir tahun 2025 jumlah insinyur Indonesia tidak akan lebih dari 20.000. Sementara itu kebutuhan minimal tidak kurang dari 850.000 orang.

Kondisi demikian bisa dipastikan Indonesia akan mengalami masalah besar. dimulai dari rendahnya pendapatan pajak, produksi yang sangat rendah, ekspor impor akan berkurang, peningkatan akan meningkat dan selanjutnya menimbulkan masalah sosial dan kehidupan bangsa.

“Menghadapi hal tersebut tidak ada jalan lain kecuali meningkatkan kesadaran visi globalisasi pada kalangan profesional, praktisi, dan asosiasi keinsinyuran Indonesia.

Pentingnya diperhatikan untuk mematuhi UU No.11 tahun 2014, dan mempersiapkan diri untuk mengikuti pendidikan profesi insinyur. Muaranya juga menambah jumlah insinyur di Indonesia bertambah, dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, dan bisa bersaing di tingkat global,” kata Direktur Kelembagaan Kemenristekdikti ini.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Mengenal Komunitas Sahabat Disabilitas Semarang

Rabu, 17 November 2021 | 16:53 WIB

PCINU Tiongkok Dipilih, Sebarkan Moderasi Beragama

Senin, 15 November 2021 | 19:14 WIB

PTKIS Berbasis Riset, Mungkinkah?

Rabu, 10 November 2021 | 14:17 WIB
X