Profesor Undip dan Ilmuwan Jepang Berkolaborasi, Kembangkan Sistem Radar Pantau Kondisi Laut Purba

- Sabtu, 25 September 2021 | 10:36 WIB
Rekonstruksi Selat Muria berdasarkan data radar dan citra satelit. (suaramerdekacom / dok)
Rekonstruksi Selat Muria berdasarkan data radar dan citra satelit. (suaramerdekacom / dok)

SEMARANG, suaramerdekacom - Guru besar Undip bersama profesor dari Chiba University, Jepang mengembangkan aplikasi teknologi CP-SAR Radar untuk memantau dinamika wilayah pesisir (coastal geo-dynamic) dan mendeteksi kondisi laut purba (paleoseaografi) di Indonesia.

Adalah Prof Agus Hartoko dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip yang sudah 15 tahun menjalin kerja sama dengan Prof Josaphat, guru besar tetap di Chiba University, Jepang.

Prof Josaphat adalah seorang pakar yang medesain dan membangun berbagai jenis radar untuk dipakai di berbagai negara.

Model yang dikembangkan adalah teknologi baru acap disebut CP-SAR (Circular Polarization – Synthethic Apeture Radar).

Baca Juga: PGRI Minta Seleksi Guru PPPK 2021 Ditinjau Ulang, Begini Pernyataan Sikapnya

Di antaranya digunakan untuk observasi bumi maupun planet lain di tata surya seperti Mars, dan lainnya.

Selain itu dapat dipakai sistem pengawasan pertahanan bergerak (mobile monitoring) baik di darat, laju kapal di laut atau pergerakan pesawat udara.

Pemantauan dapat dikerjakan siang atau malam hari.

Bahkan teknologi CP-SAR ini bisa menembus bangunan, vegetasi atau pemukaan tanah sehingga dapat digunakan untuk anti-teror (contra terorism), pemantauan gunung berapi, longsor, banjir, dan sebagainya.

Baca Juga: Atasi Pandemi Covid-19 Global, Indonesia Dorong Kesetaraaan Akses Vaksin di Seluruh Dunia

Perangkat radar dengan beberapa ukuran yang berbeda dapat di pasangkan pada drone (UAV), pesawat udara dan bisa berupa radar yang mengorbit di bumi.

Khusus kerjasama dengan FPIK Undip dikembangkan untuk aplikasi pemantauan gelombang laut, coastal geo-dynamic seperti pergerakan tanah di pantai (land deformation, land subsidence), sedimentasi, erosi, hingga pencemaran minyak di laut.

Selebihnya teknologi itu bermanfaat sebagai dasar perecanaan wilayah dan desain infrastruktur pantai.

Piranti mutakhir dikembangkan untuk mendeteksi dan rekonstruksi wilayah cekungan pantai, dan laut purba (paleo-osanografi).

Misal seperti di Sangiran, Grobogan, serta Selat Muria.

Kemudian juga di Wamena Papua, pertemuan tiga lempeng benua di Palu, situs Sriwijaya di Palembang, dan lainnya.

Tak kurang model ini bisa menjadi dasar desain pembangunan infrastruktur jalan, pelabuhan,perkotaan serta lainnya.***

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X