Menarik, Seminar Nasional Sastra Bahas Akar Feminisme Nusantara

- Jumat, 24 September 2021 | 15:34 WIB
SEMINAR SASTRA: Sejumlah dosen dan mahasiswa peserta antusias mengikuti Seminar Nasional Sastra yang diadakan Prodi Sastra Indonesia FBS UNY secara daring dengan tiga narasumber utama, yakni Prof Dr Suminto A Sayuti, Prof Dr Aquarini Priyatna MA MHum, dan Prof Dr Wiyatmi MHum. (suaramerdeka.com/dok)
SEMINAR SASTRA: Sejumlah dosen dan mahasiswa peserta antusias mengikuti Seminar Nasional Sastra yang diadakan Prodi Sastra Indonesia FBS UNY secara daring dengan tiga narasumber utama, yakni Prof Dr Suminto A Sayuti, Prof Dr Aquarini Priyatna MA MHum, dan Prof Dr Wiyatmi MHum. (suaramerdeka.com/dok)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com – Akar feminisme Nusantara dalam sastra Indonesia menjadi bahasan menarik dalam Seminar Nasional Sastra yang diadakan Prodi Sastra Indonesia FBS UNY dan HISKI UNY, beberapa waktu lalu. Seminar berlangsung secara daring dengan tiga narasumber utama yang kompeten di bidangnya.

Ketiganya adalah Prof Dr Suminto A Sayuti (FBS UNY), Prof Dr Aquarini Priyatna MA MHum (FIB Unpad), dan Prof Dr Wiyatmi MHum (FBS UNY). Tak kurang dari 300 peserta dari berbagai kampus di Indonesia mengikuti seminar yang juga bekerja sama dengan Tim Peneliti DP2M (Direktorat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat).

Dalam paparannya, Prof Suminto mengatakan, dalam kisah nusantara, tercatat beberapa nama perempuan yang menunjukkan eksistensi dan keberaniannya dalam menghadapi masyarakat yang palogosentris.

“Kunti, Sawitri, dan Pembayun adalah beberapa contoh perempuan yang mampu menaklukkkan kuasa patriarki,” ujarnya.

Baca Juga: RSUP Dr Kariadi Terima Bantuan Mobil Jenazah, Permudah Pelayanan kepada Masyarakat

Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu mencontohkan, Sawitri berani menggugat kuasa para dewa. Kemudian Kunti mampu menguasai ilmu memanggil dewa, dan berkat peran Pembayun, Ki Ageng Mangir berhasil ditundukkan.

“Dari sini kita bisa menilai, akar feminisme sudah menancap dalam sekian lama di bumi nusantara,” katanya.

Sementara itu, Prof Aquarini menyatakan, ketika sastrawan perempuan menulis, sejatinya para perempuan tengah berusaha mengartikulasikan dan mendokumentasikan keberagaman kehidupan perempuan. Termasuk persamaan dan pengalamannya yang situated dan located.

“Tulisan Perempuan Indonesia seringkali dianggap genre yang tidak sastrawi, tidak serius, rendahan, dan remeh-temeh. Juga menulis tentang tubuh dan seksualitas perempuan,” tuturnya yang menegaskan, menulis adalah kegiatan menyuarakan yang “bisu” dan dibisukan.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menuju 40 Tahun, UWM Miliki Kampus Baru

Kamis, 14 Oktober 2021 | 18:00 WIB

Teliti Respons Perundungan, Argo Raih Doktor

Kamis, 14 Oktober 2021 | 17:49 WIB
X