Di Balik Alasan WHO dan Unicef Mendorong Semua Sekolah di Indonesia Segera Gelar PTM

- Jumat, 24 September 2021 | 14:18 WIB
 Sejumlah siswa SMP Negeri 1 Kota Pekalongan, mengikuti PTM terbatas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat, Senin (6/9). Foto : (suaramerdeka.com/Kuswandi)
Sejumlah siswa SMP Negeri 1 Kota Pekalongan, mengikuti PTM terbatas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat, Senin (6/9). Foto : (suaramerdeka.com/Kuswandi)


JAKARTA, suaramerdeka.com - Organisasi Kesehatan Dunia WHO dan UNicef mendorong semua sekolah di Indonesia segera melangsungkan pembelajaran tatap muka (PTM).

Menurut WHO, jika tidak segera dilakukan pembelajaran tatap muka dikhawatirkan kesehatan dan kesejahteraan anak akan terdampak.

Berdasarkan data pemerintah bulan Maret 2020 lalu, lebih dari 60 juta murid di Indonesia terpaksa tidak bisa bersekolah.

"Semakin lama anak berada di luar sekolah, semakin lama pula mereka terputus dari bentuk-bentuk dukungan penting ini. Jadi, seiring dengan pelonggaran pembatasan mobilitas karena COVID-19, kita pun harus memprioritaskan pembukaan kembali sekolah dengan aman agar jutaan murid tidak perlu menanggung kerugian pembelajaran dan potensi diri seumur hidupnya," ungkap Perwakilan UNICEF Debora Comini.

Melalui keterangan tertulisnya Rabu 15 September 2021, Unicef merilis data, bahwa saat ini baru 39 persen sekolah yang telah kembali dibuka dan menyelenggarakan PTM secara terbatas sejak 6 September 2021, sejalan dengan panduan nasional dari pemerintah.

Baca Juga: Layanan IndiHome Kembali Normal, Telkom Beri Kompensasi Bebas Denda Tagihan bagi Pelanggan

Oleh karena itu, Unicef mendesak sekolah di Indonesia segera dibuka, mengingat capaian prestasi dikhawatirkan juga menurun dan berimbas putus sekolah. Padahal tahap sekolah merupakan tahap penting perkembangan anak karena memiliki konsekuensi jangka panjang.

"Bagi anak-anak, makna sekolah lebih dari sekadar ruang kelas. Sekolah adalah lingkungan tempat belajar, berteman, mendapatkan rasa aman, dan kesehatan," kata Debora Comini.

Anak-anak yang tidak bersekolah juga lebih berisiko menjadi korban eksploitasi ataupun kekerasan fisik, emosional, dan seksual.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Sumber: Kata Data, Unicef

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Diterima Menjadi P3K, Guru Honorer Sujud Syukur

Jumat, 8 Oktober 2021 | 23:05 WIB
X