Biobriket dan Biopellet, Bisa Jadi Alternatif Energi dan Peluang Bisnis

- Rabu, 22 September 2021 | 11:00 WIB
Peserta dan pembicara yang hadir dalam webinar bertema biopellet sebagai energi alternatif yang digelar Sekolah Pascasarjana Undip Semarang. (suaramerdeka.com / dok)
Peserta dan pembicara yang hadir dalam webinar bertema biopellet sebagai energi alternatif yang digelar Sekolah Pascasarjana Undip Semarang. (suaramerdeka.com / dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Pemanfaatan energi alternatif biobriket dan biopellet menjadi topik yang menarik dibahas dalam webinar yang digelar Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Senin 20 September.

Webinar ini diadakan dalam rangka program Kedai Reka yang merupakan akronim Kedaulatan Indonesia dalam Reka Cipta.

Sejumlah pembicara dihadirkan dalam webinar yang diikuti kalangan akademisi tersebut.

Biobriket merupakan bahan bakar yang berwujud padat dan berasal dari sisa-sisa bahan organik.

Baca Juga: Said Aqil Sebut Mayoritas Masyarakat belum Bisa Menikmati Kekayaan Alam Indonesia: Salah Kelola

Bahan baku pembuatan arang biobriket pada umumnya berasal dari, tempurung kelapa, serbuk gergaji, dan bungkil sisa pengepresan biji-bijian.

Adapun biopelet adalah jenis bahan bakar padat berbasis limbah biomassa yang memiliki ukuran lebih kecil dari briket.  

Guru Besar Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, dan Teknologi Energi, Pascasarjana, Undip, Prof Dr Widayat ST MT IPM, memaparkan potensi bahan baku biomassa di Indonesia sangat melimpah.

Baca Juga: Epidemiolog Sebut Aplikasi PeduliLindungi Justru Menyulitkan Pemerintah

Jadi, keberadaan biobriket dan biopellet merupakan salah satu pemanfaatan biomassa dengan sentuhan teknologi.

''Teknologi yang digunakan dalam pembuatan biobriket, dengan melakukan proses karbonasi dan dicetak dengan tekanan tertentu, baik dengan menambahkan pengikat (binder) maupun tidak. Adapun teknologi yang digunakan dalam proses pembuatan biopellet hampir sama dengan biobriket, yang membedakan pada biopellet tidak adanya proses karbonasi,'' jelasnya.

Sementara itu, Dr Fadjar Goembira ST MSc dari Fakultas Teknik Universitas Andalas Sumatera Barat menyampaikan, penggunaan bahan bakar fosil sama dengan memindahkan karbon dari dalam bumi ke atmosfer, sehingga menyebabkan akumulasi gas rumah kaca.

Penggunaan biomassa sebagai bahan bakar untuk menggantikan bahan bakar fosil sangat tepat, karena ketika di bakar melepaskan CO2 ke udara tetapi CO2 yang dihasilkan pembakaran terserap kembali oleh biomasa yang belum dimanfaatkan.

Baca Juga: Penguatan Pasar Global Picu Sedikit Pelemahan Dolar AS dari Level Tertinggi

Webinar juga menghadirkan pelaku industri biobriket dan biopellet, yakni Ranjiv Maulana Dipl Ing (Shisha Coal Co Manufacture) dan Ir Aswandi (CV Karya Perkakas Jogya).

Keduanya telah memaparkan produk tersebut ke mancanegara. Ranjiv Maulana menyampaikan materi bertema Best Practice Produksi Biobriket Skala Industri.

Produksi biobriket skala industri selalu ditekankan adanya efisiensi agar biaya selalu terjaga.

Menurutnya sering terjadi dan tidak disadari, ketika produksi lancar dan hasil produksi bagus, tetapi tidak tahu apakah untung atau rugi.

Aswandi menyampaikan materi Tekno Ekonomi Produksi Biobriket dan Potensinya.

Dijelaskannya, produk ekspor biobriket sangat diminati dan permintaan tinggi dari luar negeri.

Bisnis di bidang biobriket masih sangat terbuka lebar dengan permintaan pasar yang melimpah.

Prof Dr Widayat ST MT IPM yang juga panitia kegiatan mengungkapkan kegiatan itu diharapkan membuka wawasan serta peluang mengembangkan teknologi biobriket dan biopellet.

Dia juga mengajak dan membuka peluang bagi mahasiswa dari seluruh Indonesia bergabung dalam program magang di industri biobriket dan biopellet, yang diadakan Sekolah Pascasarjana Undip Semarang.

Program itu juga bagian dari menyukseskan program Kedai Reka Kampus Merdeka 2021, dengan harapan tercapainya kolaborasi antara perguruan tinggi dengan industri.

Tujuannya agar dapat menciptakan dan mengembangkan produk biobriket dan biopellet yang lebih maju dan lebih inovatif.***

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X